HIKAYAT ZHODAM : I.Perkembangan Shurulkhan

Assalamu’alaikum ..

Para tamid PTI, simpatisan Thifan dan para pecinta beladiri, berikut kami akan menyampaikan beberapa kisah dari kitab ZHODAM, yang merupakan kitab hikayat Thifan Po Khan. Sesuai pesan dari pengurus maka sengaja artikel ini tidak diterjemahkan dalam bahasa Indonesia tetapi masih asli dalam bahasa Melayu untuk menjaga ke otentikan hikayat ini.

Silakan untuk dinikmati dan diambil ibrahnya.
Wassalamu’alaikum

Persaudaraan Thifan Po Khan Indonesia

ZHODAM
“MUKADIMAH”

Syahdan mahasanya hampir setiap jenis ilmu pembelaan diri empunyai ceritera, maka akan hal ihwal Syufu dan Thifanpun ada pula empunya ceritera itu, maka kuhimpun dan kususun ceritera ini berdasar alas kabar berkabar dan tiadalah ceritera itu ku beri bunga sehingga ada sebahagian tiadalah berujung pangkal.

Maka kutulis ceritera ini agar tamid kalian dapatlah memetik sari tauladan sehingga tiadalah kalian itu meremehkan ilmu, sanya sekalian ilmu itu mahal adanya dan mencahari ilmu itu tiadalah semudah dugaan kalian dan mengkaji ilmu dengan ceroboh itu hanya akan menumbuhkan hasil yang hampa seumpama butir-butir gandum yang tiada bernas untuk makanan keledaipun tiada bermanfaat.

Maka kunamakan ceritera itu hikayan dan tiadalah kunamakan tarikh/sajarah, karena sejarah itu harus berpokok yang berakarkan bukti-bukti dan kesaksian akan hal suatu kejadian masa dahulu dan kini.

Ayuhai tamidku kalian; kalian harus pandai bertimbang fikir, kalian harus pandai bertekun teliti, kalianpun harus tekun berlatih diri, lalu kalian mencoba menjawab bisikan hati-hatimu sendiri : kata hati :”Benarkah ada suah terjadi keistimewaan dan pengurbanan lanah pedekar itu!”.

Sekianlah semoga bermanfaat.

PERKEMBANGAN SHURULKHAN

Syahdan terpecahkan puar oranglah kabar-berkabar akan hal ceritera pekembangan Shurulkhan itu, maka sebermula lahirlah sejenis cahara pembelaan diri purba berbentuk gumulan, sepak – tinju dan pemainan senjatadan di namakanya jenis pembelaan diri itu “Kagrul”.

Maka adalah tatkala berkembang ajaran Budha pada suku-suku Tayli, Kimak, Doghan, Oirat, Kitan, Mongol, Naiman, dan Kati tejadilah perlakuan Kagrul itu dengan olehperaturan nafas Kampa.

Maka semula di benua cinapun sejak ribuan tahun awal aliran Shourim itu telah ada sejenis silat beranak akan hal ihwal perkelahian binatang.

Maka adalh kata sahibul hikayat seorang raja di Benua Hindustan yang berputera banyak, maka putera ke empat seri baginda itu seorang pemeluk Bhuda dan taat dan ditinggalkannya segala upacara ke besaran dan leba harta dan di pilihnya hidup dalam wihara dan lalu ditukarlah nama aslinya itu menjadi Ponitorm dan di sebu Tamo Sozhu oleh orang cina.
Alkisah Ponitormpun pergi perkembara meninggalkan Benua Hindustan mara Benua Cina dan pada masa itu ajaran Bhuda itu telah berkembang di Cina hanya telah berlakur adat istiadat orangCina itu sehingga berambanglah sudah. Maka terlalu jauh perjalanan yang di tempuh Ponitorm itu lalu pada suatu hari sampailah ia akan kawasan Kerajaan Liang dan raja negri itu bernama Wu.

Maka eratlah pergaulan Ponitorm itu dengan baginda Raja Wu itu tetapi konon timbullah fitnah angin sehingga bagindapun kurang menyukai Ponitorm itu apa pula ia di anggap pembantah dan berkeinginan lain dari pada kesukaan hati baginda Wu itu.

Maka Ponitorm pun meninggalkan berana Kerrajaan Liang itu berkembara pula ke arah utara dan sampailah konon akan sebuah bukit dan di atas bukit itu di jumpainya ada sebuah rumah berhala yang terlalu amat rusak tampaknya lalu Ponitorm pun di Bantu segala pengikutnya itupun merolah bentuk berhalaitu sehinggan terbentuklah sebuah Wihara Budha.

Alkisah datangalah ramai umat Budha itu kepadanya dari sebentara negri-negri dan kampung dari alam Benua Cina itu sehingga ramailah sudah dan terkenallah akan nama Kao San Shourim Sze biara Shourim di Bukit Kao.

Maka menurut ceritera dalam kitab-kitab Cina Budha adalah Ponitorm itu suah bertepekur menghadap sebuah bukit sembilan tahun lamanya sehingga konon terbitlah kesaktiannya itu. maka karana terlalu amat banyak murid-murid Shourim itu di usik orang yang membenci akan ajaran Budha itu dan gangguan segala perampuk penyamun yang berkelara di negri itu, lalu Ponitorm pun menyusun serrangkaian gerakan pembelaan diri lakuran kampahana tinju Hindustan yang ia bawa, silat cina purba, lalu diaturlah dengan jalan pernafasan yoga terbentuklah Shourim Kumfu atau Shao Lin Kungfu dalam lidah Cina, pengkajian Shourim Kumfu itu berkitabkan I Zenzang serta ilmu Bathinnya itu Hzen Souzen. Maka berkembanglah aliran Shoulin Kumfu itu ke seberinda alam Benua Cina itu.

Maka tatkala penghancuran akan Wihara Shourim oleh pihak kerajaan yang membenci ajaran Budha, pecahlah aliran Shourim itu menjadi berpuluh firkah dan setiap firkahpun berkembang sendiri dan terpengaruh alam tempat pertumbuhan aliran itu.
Syahdan berkembanglah aliran Shourim ke arah utara luar benua Cina itu masuk daerah orang lama dan orang Wigu, maka tatkala sampailah dua abad lepas hijrah orang-orang sempadantanah Cina arah utara itu masuk Islam lalu ilmu pembelaan diri masa meraka memeluk Budha itu di bawanya pula dalam alam Islam tetapi di tinggalkannya segala upacara yang bersangkut paut denga ke Budhaan seumpama segala penyembahan, cahara bersalam dengan mengatupkan kedua belah tangan, lambang-lambang dan segala istilah.
Konon datanglah seorang laki-laki bangsawan bernama Je’nan ke tanah Sanyu maka berceriteralah Hamet Oklay Tugluk akan hal Je’nan itu, katanya: “Semula Je’nan termasuk bodoh dalam ilmu pembelaan diri walaupun ia termasuk pandai dalam ilmu-ilmu lain seumpama ilmu Syara sehingga ia terkenal sebagai ahun muda. Maka Je’nan bekerja di lanah besar dan tatkala ia dengar ada semacam ilmu pembelaan diri ajaib ia tertarik akan ke ajaiban itu walaupun pada masa itu ia tiada bersaksi mata ia hanya terima kabar angin mulut ke mulut anak-anak lanah.

Maka pada suatu hari pergilah ia akan sebuah ruangan besar dalam lanah itu berdinding tanah liat dan tampaklah sekawan tamid tengah turgul sungguh mengasikkan dan berkesan dalam hati Je’nan, kemudian fikirannya melubuk: “mengapatah aku terlalu bodoh dalam ilmu pembelaan diri dan mengapatah aku menjadi seorang laki-laki lemah semacam perempuan penari kerajaan!”

Maka Je’nan pun bertepekurlah dan terganggulah alam fikirannya itu akan guna segala ilmu pembelaan diri itu apa pula ia pernah berbantah dengan seorang Asykar kerajaan yang membenci Islam dan Je’nan di tampar dan muka Je’nan pun di ludahinya.
Maka bangkitlah semangat Je’nan ia mendatangi guru ilmu perkelahian orang Wigu dan di kajinya sepak – tinju orang Wigu itu enam bulan sembilan hari lamanya.

Maka datanglah ia akan pendekar Namsuitdan usia pendekar itu sudah lanjut lebih seratus tahun kiranya tetapi pendekar itu masih kuat memutuskan rantai besi maka Je’nan pun berkaji ilmu pembelaan diri akan pendekar Namsuit itu, maka suatu keajaiban menimpa dirinyalah setelah ia berlatih tekun bertahu-tahun ia menjadi seorang pendekar ia semula di cemo’okan itu turgul dan segala pencemooh sehayt segala tamid tinggi yang pernah setingkat dengan Je’nan itu, lalu timbullah niat Je’nan hendak mencoba ilmu yang pernah dikajinya itu di ajaknya pencemooh itu turgul dan segala pencemooh itu pun undurlah dan alahlah sudah. Maka pada suatu ketika ia telah di anggap setanya guru dan hairanlah orang akan Je’nan sebab tiada seorangpun pernah dengar ia berguru ilmu pembelaan diri itu.

Alkisah seorang pendekar kerajaan hendak mencoba akan dia lalu hendak berpura-pura berguru akan Je’nan itu tetapi pendekar kerajaan itupun alahlan mendapat malu. Lalu pendekar kerajaan itupun bergurulah pada Je’nan, tetapi hati Je’nan sendiri merasa terlalu amat rendahlah ilmu pembelaan diri yang ia miliki itu walaupun telah tersiar luaslah kabar berkabar akan kehaibatan ilmu ahun muda itu.

Maka pada suatu hari ia meninggalkan lanah berpesiar ke tanah timur mendatangi guru-guru yang di tunjukannya pendekar Namsuit kepadanya, ketika berpesiar itu di dalam perjalanan ia di tegah seorang penyamun Puak Mongsi Ha’ul namanya ia ahli dalam ilmu banting membanting matanya sipit, alisnya tebal bersambung, badannya seumpama raksasa tetapi Je’nen tiadalah undur menghadapi si Ha’ul itu di tambatkannya kuda putihnya itu lalu di tegurnya si Ha’ul bdengan sopan santun tetapi Ha’ul langsung hendak menyerangnya karena tampak kantung emas pada pinggang Je’nan itu.
Maka undurlah Je’nan sehingga si Haulpun jatuh mencium tanah, maka si Ha’ul pun meminta maaf dan ia berjanji hendak mencahari pekerjaan yang layak di luar penyamun itu.

Maka sampailah akan sebuah puak bangsa Kiti maka di ajak oranglah turgul dengan pendekar bangsa Kiti itu dalam semacam perayaan kemenangan, maka dikalahkan Je’nan seorang pendekar Uzusat namanya dalam arat turgullah di istana Kiti khan, sehingga Uzusat itu pun ingin bergurulah kepadanya.

Maka Je’nan mengkaji segala gerak-gerik Uzusat tatkala berturgul itu dan di tanyakannya akan dia nama lalu bentuk jurus-jurus yang ia miliki, Uzusatpun berceriteralah sanya gurunya itu berguru di benua Cina pada pendekar-pendekar pengemis Shourim.
Lalu pergihlah Je’nan menjumpai tamid-tamid lanahselatan negeri Kuan Zyu yang di kuasai bangsa Han, maka hanya sebagian kecil orang Kuan Zyu itu memeluk Islam dan sebagian besar penyembah berhala.

Maka Je’nan mendatangi Szamzi yang berarti pendekar seribu tuah, Szamzi pun ingin mencoba akan Je’nan tatkala mengenal Je’nen dari tanda-tanda yang ia miliki maka di paksa raja mudalah Je’nan berturgullah dengan Szamzi dalam ruang istananya itu, Szamzi pun robohlah dan tubuhnyapun hitam-hitam hangus, maka tatkal sembuhlah Szamzi itu bergurulah pada Je’nan lalu di sebarkanlah ajaran Rasulullah saw di negri itu hanya Je’nan mendapat tantangan bekas tentara kerajaan yang berbadan seumpama gergasi dan ia ingin memperdayakan Je’nan itu dengan serangannya yang dahsyat secara tiba-tiba tatkala Je’nan lepas Shalat Isya dalam sebuah masjid apapula masa itu musim salju yang dapat membekukan darah, maka bekas tentara kerajaan itu dapat di robohkan segera dan kepalanyapun pecah, maka orang-orang Islam di negeri itu menasehati Je’nan agar cepat meninggalkan negeri itu, lalu Je’nan pun pergilah dan hampir kuda Je’nan terbenam dalam salju yang seumpama buaian kapas itu.

Maka Je’nan selalu bertepekur memperhatikan mengkaji segala gerak-gerik binatang dan pekelahian binatang ia pernah memperhatikan perhelahian seekor harimau putih dengan seekor harimau belang.

Ia pernah memperhatikan seekor kucing, seekor kera besar yang berbulu kelabu, seekor wund, seekor ayam sutera, dan pelbagai jenis sarangga; agar tiadalah ia lupa maka ia tuliskan apa yang ia lihat itu seumpama betapa gerakan pembelaan diri ayam bersabung atau seekor lebah bersanggah dengan seekor laba-laba beracun.

Alkisah pada suatu hari bertemulah Je’nan dengan syukit lalu bertanyalah Je’nan akan Syukit sebab telah ada dengar pesan Namsuit akan hal Syukit menyimpan cahara perkelahian Sourim dalam sebuah kitab, maka katanya: “Wahai Syukit benarkah engkau menyimpan kitab Saurim itu?” Maka sahut Syukit: “Benarlah aku dapat salinan kitab itu dari seorang cina pemabuk mungkinlah si pemabuk itu dapat mencurinya dari Wihara :” Maka kata Je’nen pula: “Dapatkah aku pinjan kitab salinan itu?” Maka sahut Syukit: “Bolehlah tetapi berilah aku sekeping uang mas itu aku tidak dapat menafkahi anak istriku pada hari-hari ini dan tuan tanah telah melepasku karena aku di tuduhkan mencuri!”

Maka Je’nan pun memberinya beberapa keeping uang mas sehingga bergembiralah Syukit, mukanya tanpak cerah ia berlari-lari mengambil kitab itu dan di serahkannya akan Je’nan safat itu berbungkus kulit dan sangat tebal berbahasa Cina, tetapi Je’nan mengerti bahasa itu karena ibunya seorang berbangsa Cina dan pernah mengajarkannya tulisan-tulisan gambar itu kepadanya.

Maka di kajinya kitab itu lalu sebahagian gerakan-gerakan Shourim itu ia ambil dan ia ubah maka terbentuklah dua aliran ilmu pembelaan diri.
Maka kelak di namakan Shurulkhan yang berarti rahasia siasat segala raja.

Dan akhir ceritera Je’nan itu takkala ia berfatwa di lanah Shurulkhan di hadapan dua puluh sembilan (29) tamid, dua puluh (20) orang tua dan sembilan (9) orang muda.
Maka fatwanya: “Sanya mengkaji Shurulkhan ini bukanlah untuk mencapai diri menjadi juara sehingga terpilih menjadi bentara mir atau khan, bukanlah pula untuk bersombong telombong bertebah dada tenggelam dalam alam ketakaburan, firman Alloh Subhanahu Wata’ala (dalam Assyura : 42)” Sanya ada jalan pembalasan bagi mereka peleku aniaya dan pengacau di atas muka bumi dengan tiada hak, mereka akan menerima kepedihan siksa!”

Besabda Raslullah saw: “Sanya Allaoh telah mewahyukan kepadaku agar kamu bertawadlu’ sehingga tiadalah seorang menganiaya orang lain dan tiada menyombongi orang lain” (HR Muslim).

Kita sebagai seorang muslim itu mengkajhi ilmu ini bukanlah sekedar permaina dan bukanlah pula sekedar penyehat tubuh, maka hendaklah kita meluruskan jarum hatikita itu, tiadalah kita beranjak berlepas diri dari tujuan suci mempertahankan hak, hendaklah tamid-tamid kalian mencamkan lah ini.

Bukankah sahabat Ali bin AbiThalib ra pernah bersabda: “Ketahuilah olehmu semoga Alloh merahmatmu, sanya engkau kalian pada suatu zaman, pendekar haq itu sedikit, ucapan haq tidak berpengaruh, penetap haq di anggap hina, segala ahli maksiat, segala penghulu itu muda hin di pilihnya bahasa-bahasa pemikat keperluan hidup, segala belia keras kepala, orang tua bergelimang dosa, ulama munafiq, pembaca Al Qur’an hanya berlanggam suara, kini tiadalah hormat si rendah pada si atas lalu orang kayapun membiarkan orang-orang fakir miskin.”

Pesan wasiat sambung-bersambung semanjak ilmu ini di himpun di bersihkan dari segala cahara pengotor akan syara dan itikad dengan penuh maksud dan tujuan kalian janganlah menghianatinya dan janganlah kalian melarikan diri dari perjuangan itu, karena melarikan diri dari perjuangan itu termasuk dosa besar. Maka penghimpun mewakafkan ilmu ini untuk orang-orang Islam karena sanya orang Islam itu telah di bebani beban yang berat hidup di muka bumi ini dengan kewajiban mempertahankan haq jihad fi sabilillah. Maka adalah orang-orang Islam penakut itu mencahari dalih untuk menghindarkan diri dari segala peri perang sabilillah itu karena ingin lepas bebas dari segala kewajiban agar tiada terganggu menimbun harta atau tiada terganggu menjilat amir-amiritu atau sebahagian ulama eloklah memilih dzikir seratus ribu bernyanyi selawat dalam khanka cukup berkhalawat berpantang daging dan perempuan sekedar pembeli surga, sanya ketahuilah bahwa surga itu mahal tiada semurah yang mereka sangka.
Adakalanya alim yang munafik itu beralasan hadits-hadits lemah yang dibesar-besarkan kaum sufi itu, maka apakala diajaklah mereka berjuang di jalan Alloh itu menjawablah mereka dengan cibiran bibir: “Ah perang itu persoalan kecil jangan membuang-buang nyawa, karena kita itu di perintahkan beribadat bukan berperang, eloklah bertahan nafsu itulah jihad besar, eloklah amalkan tharekat tuan guru, biarkanlah dunia itu untuk kafir negeri Islam itu di surga nanti.

Itulah ucapan-ucapan seorang sufi sehingga akibat perbuatan dan fatwa mereka terjuallah negeri-negeri Islam pad orang kafir pembenci Islam tetapi berbentuk buaian bagi sufi, maka berkata pula mereka: “Pilihlah pahala yang lebih besar dengan amalan ringan.”
Maka bila fatwa ini di tanamkan pada hati muslimin lalu padamlah semangat kaum muslimin maka terjuallah tanah orang Wigu pada orang Han yang kafir yang mendapatkan tanah itu dari orang-orang munafik; maka apakala umat Islam itu akan berontak berkatalah mufti: “Haramlah kalian membantah ulil amri.” Itulah akibat bimbingan seorang alim munafik yang tiada segan bertekuk lutut pada pemerintahan raja-raja munafik atau kafir dan sangat kejam terhadap Islam itu.

Maka terlalulah banyak sudah kisah alim munafik itu ia menjadi seorang teralim dalam ratusan din di istana raja-raja, apa yang di kehendaki raja selalu dihalalkannya walaupun dalan haram, munkar yang di kutuk syara. Maka akibat alim munafik itulah terkelok kelompok umat terbawa menjadi pembantu kemunafikan, patah semangat jihad kaum muslimin dan harta yang di keluarkan umat di pergunakan untuk penindasan kaum muslimin sendiri seumpama dian yang menyala di padang salju dan gelap malam itu padam tersilir angin, apakala padamlah sudah meraba-rabalah mereka dalam kegelapan, sunyi senyap dingin makan tulang, maka datanglah pembimbing lancung ia di bimbinglah ke arah jalan istana fir’aun, alimpun kaya rayalah karena mereka, bertegaklah ia menjadi seorang karun sipit.

Fatwa sufi: “Biarkanlah mereka yang kafir itu menguasai negeri kita dengan demikian kitapun belajar bersabar dalam penindasan mereka, kitapun terdampar dalam khalwat yang khusus.

Kala kutanyakan: “Betapakah bila mereka itu membakar khan kamu sedang tuan-tuan sedang dalam khanka itu?” maka sahut seorang di antara mereka: “Ahai terlalu bodohlah kalian itu, kami akan diam sehingga kami lekas sampai ke surga.” Katanya pula: “membela diri itu bukanlah dengan ilmu pembelaan diri dengan berlatih serupa perbuatan kafir tetapi cukuplah dengan akhlak yang mulia.” Maka kujawab: “Apakah tuan menuruti fatwa patriah nasrani itu apakala di tampar pipi kanan lalu berikan pula pipi kiri.Maka ia menjawab: “Ya begitulah. Ingatlah sanya musuh-musuh Islam itu tiada kenal akan cirri akhlak yang mulia, bukankah kalian masih terambak penerbuan Hulaghukhan akan sekalian negeri Islam ia tidaklah mensisakan yang berakhlak mulia bahkan wanita dan anak-anakpun mereka bunuh, ingatlah pula seindah akhlak adalah akhlak Rasulullah saw beliaupun ikut berperang bahkan pernah cedera begitu pula sekalian sahabat seuympama sahabat Abu Bakar ra yang kamu katakana sabar itu. Relakah tuan-tuan bila mereka kafir itu menjarahi tempat tinggal tuan lalu mereka menzinahi anak-anak dara tuan, isteri tuan, dan merampas akan sekalian harta benda dan lalu menjadikan tuan-tuan sebagai budak-budak mereka.”

Maka itulah fatwa Je’nan dan tatkala itu seorang tamid berhati munafik maka diam-diam iapun menyelinap ke luar lalu di ceriterakan akan Alay seorang mufti yang pernah menjual tanah itu kepada oaring kafir dengan fatwanya, maka pergilah Alay menghadap raja bangsa Oirat itu, maka bagindapun menyuruh panggil tamid munafik itu dan suruhlah berceritera tentang kata-kata dan fatwa Je’nan, mak bagindapun bertanyaakan Alay “Wahai mamanda betapa kata-kata yang di ucapkan Je’nan orang asing itu?” mak jawab Alay: “Ampun tuanku terumpah yang agung, sanya segala ucapan dia itu menghina patik yang hina dina ini dan tuankupun terhinanya pula.” Maka amarahlah baginda sehingga tampak bemuka merah padam dan dipersiapkannya lima puluh asykar untuk menangkap Je’nan itu.

Alkisah kala Je’nan melihat kedatangan asykar kerajaan itu maka Je’nen pun mengenakan baju zirahketika dua puluh orang tamid tua melihat Je’nan berkemas maka kedua puluh tamid tua itupun menghadang asykar kerajaan itu timbullah perbantahan sehingga datanglah segala bantuan asykar kerajaan itu, tamatlah sudah riwayat dua puluh orang tamid tua itu termasuk pendekar Namsuit semua bermandi darah, seorang tua yang hampir meninggal berfatwa agar Je’nan pergi meninggalkan medan itu kerena tiadalah berguna menyanggah orang munafik itu, maka Je’nen pun pergi berkuda putih dengan luka-luka pada lengan dan kepalanya.

Syahdan sembilan orang tamid selamat dan merekalah waris Je’nan itu tetapi mereka masih muda belia dan ilmu yang mereka terima itu tiada mencukupi.
Syahdan kerajaan bangsa Oirat itu akhirnya direbut oleh Zisyuk seorang penghulu penyamun dengan bantuan tentara Cina.

Alkisah maka kesembilan belia pewaris ilmu Shurulkhan itu tiadalah semua pada jalan yang haq ada di antara mereka itulah penghianat berhati busuk dialah Abayt orang Naiman.

Maka apakala telahterjadi perang itu dan lanah kecil Shurulkhan telah di bakar tentara kerajaan maka menyesallah Abay itu, kini ia ingat akan kebaiakan hati guru Je’nan yang telah berpayah-payah mengajar dia sehingga ia menjadi seorang yang mengerti akan agapan ilmu pembelaan diri dan dia pun telah di ajarkanilmu syra dua puluh kitab telah ditamatkan dari segala ilmu tafsir, hadits, ilmu bahasa arab, parsi dan segala ilmu pengetahuan.

Maka Abay pun termenung berpangku tangan di keluarkannya sekarung kecil uang mas pemberian raja itu, lalu di hadiahkannya terbagi akan segala fakir dan miskin lalu di pacunya kudanya sambil berlinang air mata apakala sampailah tengah perjalanan dua puluh enam mil safar di jumpainya sebuah masjid berdinding batu, maka Abayt pun berwudhu lalu shalat dua raka’at di masjid itu tatkala iotu terciumlah bau amis sekitar masjid itu mana kala di periksanya sekeliling masjid itu sunyi senyap tiada seorangpun di lihatnya “masjid jinkah ini?” fikirnya, tetapi tatkala ia buka salangan pintu dalam sebuah ruang di masjid itu ia pun terpaku diam, jantungnya terus berdenyut, suara apakan giginya gemertak dilihatnya mayat-mayat laki-laki bergelimpangan bermandi darah tatkala di hitung ada delapan sosok mayat tua-tua lalu ada enamsosok mayat belia dan semua tangan-tangan mereka ada terikat, lalu di lihatnya pula asar-asr sepatu asykar arah samping masjid itu, maka Abayt pun cepatlah segera tinggalkan masjid itu.
Alkisah pulanglah Abayt akan kampung halamannya itu lalu konon ia menikah dengan seorang janda kaya Radah namanyadan ia empunyai seorang anak tiri laki-laki dan dua orang puan maka anak laki-laki itu tengah baya dengan dia, Tsiming namanya.
Maka terceriteralah akan hal Abay itu membentuk sebuah lanah kecil tempat mengkaji pembelaan dirimaka lahirlah aliran Naimanka yang tidak mengenal caharaberjurus tetapi diperdalamnya permainan langkah-langkah, tusuk, bantingan, cengkeraman, tendangan dan pelbagai permainan senjata.

“Tasdyu daht nie nay fa daht
po nu jzha nay khu u baybat
Tsegh po ghun nay kuk m’ at
Sdyu ik maykha tuz fu’u fat

Maka seorang tamid Je’nen pula Hasan Payuk mengembangkan ilmu perkelahian Je’nan itu lalu timbullah aliran Payuk dan aliran ini akhirnya lenyap dan berkembang kembali ke arah selatan masuk negeri Cina dan terkenal sebagai Kumfu Ca’cu Wan atau Kumfu Utara.

Firman Allah SWT :
“Berperanglah kamu di jalan Allah menghadapi
kaum yang memerangimu dan janganlah kamu
melewati batas, karena Tuhan tiada menyukainya”
Al Baqarah : 190

Leave a Comment