HIKAYAT ZHODAM : II. Ilmu Pembelaan Diri Bahroiy

ILMU PEMBELAAN DIRI BAHROIY

Maka tersebutlah dalam nyanyian lanah :

“Shurulkhan lie tawae Bahroiy
kiy mizan na daht suy nioyi
fuy tiuyk firgan loiy zhino
Mahmay jait kitep lo’I nioo
Moyla curluq mae syili n no
Koti ibta iz kay niz Bahroiy
Kuf layt ni za’a taw liz oy”

Maka guru berceritera : adalah ilmu Bahroiy itu di namakam ilmu kapas dan pecahan dari ilmu Tae Kumfu maka akan arti Tae Kumfu itu empunyai beberapa makna:ada Tae dalam bahasa Kon yang berarti kaki, ada Tea yang berarti dahsyat atau haibat, maka kata Kumfu itupun ada pelbagai pendapat: seorang mengatakan kata Kumfu itu dari perkataan Cina Kungfu ad berarti tekun ada berarti silat ada berarti kebaikan ada pula berarti tenaga terpusat; seorang mngatakan sanya kata Kungfu itu dalam bahasa Cina itupun pengaruh bahasa Hindustan kuna “Kampa” yang berarti tenaga terpusat, bahasa ini mungkin terbawa oleh Ponitorm ke benua Cina apakal ia mendirikan Wihara Shourim atau Shourin atau Shurin atau Sorim dan dalam lidah Cina Shao Lin.

Maka seorang akhli pula berpendapat Kungfu sudah ada di Cina sebelum Bhudha dan kemudian berlakur dalam ajaran Tao dari Lozo dan Kumfusho. Maka seorang akhli pula berpendapat katanya Tae Kumfu yang kita pergunakan berarti dari kepanjangan kata: “Ni Kungfu Moslem tae syi zha ualagh” dalam bahasa Urwun ialah bahasa khas di lanah-lanah yang merupakan bahasa gaul. Maka akan hal persamaan olah pembelaan diri antara orang-orang Cina dan orang-orang Attay atau Altay itu karaena mereka itu pada masa dahulu kal serumpun, maka di antara suku-sukuy yang terkenal: Kimak, Teyli, Doghan, Oirat, Kitan, Merkit, Hun, atau Szungnu, Karit, Skit Karit, Ongkut, Mongol, Naiman, Mandsyu, Lama, Fatan, Qound, Kati, dan pelbagai suku-suku kecil, maka suku kati itupun berkembarake benua Cina lalu mereka mendirikan pelbagai kerajaan di benua Cina itu mereka akhirnya terbagi dalam berpuluh puak sehingga menjadi suku-suku baharu dan berkembanglah ke arah selatan lalu konon sebahagian bersebrang laut menduduki pulau-pulau selatan itu.

Maka suku Mongol berpecah dalam suku turki asli dan Mongol, suku Mongol yang bersekutu darah dengan orang Cina menumbuhkan suku baharu dan suku Turki pun berpecah ada yang berkembara di timur mereka terbahagi dalam puak-puak mereka berkulit putih-kuning bermata sipit seumpama Tatar Timur, Mogul yang turun ke Hindustan, Mogol yang bersekutu darah dengan orang Parsi akhirnya berhidung mancung dan berkulit kemerah-merahan seumpama orang Gazni.

Maka orang Osmanli dan Saldsyuk yang tersebar ke barat bersekutu darah dengan orang Run, Yunani dan Persi atau Arab, bahasa mereka bercampur dan wajah serta bentuk mereka pun berubah sehingga berhidung mancung dan sebagian mereka bermata biru berambut pirangseumpama keturunan Otsman Ertugrul itu. Konon Ertugrul berasal dari sepadan benua Cina yang pergi ke barat menuruti alur perjalanan Saldsyuk itu. Sanya adalah tiap-tiap suku itu empunyai kerajaan sendiri dan pim[inan suku itulah khan.
Syahdan adalah Junut itu berceritera tentang hikayat Bahroiy itu, maka katanya adalah Bahroiy itu berasal dari perkataan “Aba hi roiy” bahasa Urwun yang berarti kawanmu yang dekat gelar bagi seorang tamid pendekar Je’nen berdarah Kitan dan Cina.
Alkisah adalah Bahroiy melarikan diri ke arah sempadan benua Cina, tangan dan kakinya luka-luka ia jatuh dari kuda tunggang lalu di tolong seorang perempuan suku pegunungan dan senyampang ia seorang pemeluk Islam ia anak seorang penghulu suku Wigu gunung. Maka Bahroiy tak sadarkan diri kala ia di bawa menghadap penghulu suku itu, maka berkatalah penghulu suku itu: “Baringkanlah dan panggillah tabib dan aku yakin ia seorang muslim lihatlah sebahagian beban itu Qur’an dan kitab-kitab syara aku mengerti separuh tulisannya itu.”

Maka akhirnya Bahroiy pun berjodoh dengan Lulu anak puan Penghulu suku Wigu gunung itu dan mendapatkan anak laki-laki empat orang yakni Ali, Aibak, Urwun, dan Hassan.
Maka kerena Bahroiy seorang cerdik pandai iapun dapat menarik hati orang ramai sehingga berdirilah sebuah lanah tempat mengkaji segala ilmu dunia dan ilmu akhirat semacam ilmu syara itu. Dalam lanah itulah berkembang aliran ilmu pembelan diri “Bahroiy atau Bahroiy Kumfu”.

Maka kepandaian bahroiy dalam ilmu pembelaan diri itu di antaranya konon dapat mengangkat meja dengan telapak tangannya yang berdaya lengket lalu konon pula dapat merayap dinding karena pada kaki dan tangannya timbul daht pelekat.
Maka pada suatu hari datanglah Barbak kepdanya membawa seorang anak perempuan kira sepuluh tahun usia anak itu hanya pandai berbicara bahasa orang Han tengah.
Maka di tawarkannya anak itu kepada Bahroiy, maka datanglah Lulu katanya: “Wahai bapak si Ali aku ini amat terlalu ingin empunyai anak perempuen maka berikanlah kalung dan gelangku ini kepadanya” maka di timbang akan Barbak kalung dan gelang emas itu, Barbak tertawa menyeringdi lalu berkata: “Bawalah anak ini.” Maka pergihlah Barbak dengan segala pengikutnya itu dengan berwajah gembira dan terdengar suara mereka.

Maka anak perempuan itupun di peluk Lulu di persalinnya dengan pakaian yang indahlalu di adakanlah upacara pengislaman anak itu dan di didiknya anak itu siang dan malam. Maka telah enam tahun kemudian anak itu sudah pandai berbahasa Wigu dan bertingkah laku sempama gadis Wigu, Mahmay namanya.

Maka Mahmay pernah berceritera katanya: “Maka sanya aku anak seorang petani kaya dari keluarga Budha Cina ayahku terbunuh dalam perampukan aku dilarikan perampuk itu dan di perjual belikan kemudian Barbak merampasku dari pedagang budak belian dan pedagang budak itupun di bunuhnya sehingga aku di jual padakeluarga Bahroiy dan aku di angkat sebagai anak angkat yang seumpama anak kandungnya atau lebih dari itu aku sangat di manjakan dan aku di ajarinya pelbagai macam ilmu”.

Pada suatu ketika Lulu Istri Bahroiy jatuh sakit segala ikhtisar untuk mengobati istrinya itu tiada dapat menawar takdir sehingga pada suatu malam meninggallah ia.
Maka apakala Bahroiy itu hendak mengawali beri pelajaran ia senantiasa mengatakan: “Koiyo oyuq niahapay.” Yang berarti Hinarkanlah perkelahian kecuali bila terpaksa.”
Sanya daerah tempat Wigu gunung itu termasuk kawasan kemaharajaan Ming, maka apakala wangsa itu turun, keluarga Bahroiy terlibat dalam pemberontakan suku Wigu karena ada penghancuran suku itu.maka sempadan tanah orang Turki dan Cina tempat orang Wigu itu di masukan Zisyuk dalam kawasannya, Zisyuk bukan orang Islam dan ia bekas penghulu penyamun yang naik menjadi penguasa di daerah itu seumpama raja kecil dan maha raja Cinapun membantu dan mengirimkan seribu orang asykar kepadanya untuk penegak kekuasannya itu.

Alkisah Zisyuk menyuruh buarkan lanah Bahroiy itu dan harus berserah takluk kepadanya maka Bahroiy pun mengutus seorang tamid mengirimkan bingkisan berupa harta dan makanan yang lezat cita rasanya dan di dalam makanan di bubuhio racun yang sangat keras dan terlalu amat berbahaya.

Maka tamid itupun membungkuk menghormat kepada bentara lalu di persilakan menaik jenjang menghadap Zisyuk itu maka di terima Zisyuklah segala tanda takluk itu maka Zisyukpun mencicipi sedikit makanan itu dan iapun mabuk lalu muntah maka katanya: “Hai api Hankho periksalah makanan ini.” Maka Hankhopun memeriksa makanan itu lalu di cicipinya semula tiada merasakan tetapi tak lama kemudian Hankho jatuhlah tiada bergerak dan seluruh tubuhnya cepat membiru.
Maka di panggil Zisyuk akan seorang penasehat dari seorang bangsa lama maka kata penasehat itu: “Makanan ini racun tuanku.”

Maka terlalu amat marahlah Zisyuk segera dipersiapkannya angkatan berkuda untuk menyergap lanah orang Wigu gunung itu. Maka Bahroiy pun tiada berpangku tangan ia mengerahkan pula sekalian tamid dengan kelengkapan senjata dan seluruh belia suku itupun berkemas pula sehingga timbullah perangagak sepuluh hari sepuluh malam lamanya, dua ratus lima puluh anak lanah gugur seratus belia Wigu gunung tertawan, putera Bahroiy: yakni Ali, Aibak, Urwun, Hassan berperang sampai gugur terbunuh. Maka Bahroiy hendak tertangkap tetapi ia segera melarikan diri dan rumah keluarga Bahroiy di pertahankan pasukan perempuan, Mahmay menyerang asykar Zisyuk itu dengan kekuatan lima puluh oaring tamiddan keluarga penghulu suku semua mereka itu perempuan karena laki-laki hampir punah. Maka ketika Zisyuk sendiri mengalami cedera berat undurlah pasukan Zisyuk itu, maka Mahmay mengalirkan air mata menangisi ke empat saudaranya itu dan beratus tamid bergelimang darah sebahagian gugur sebahagian pula menanti gugur karena luka-luka mereka itu terlalu amat berat. Maka sisa tamid laki-laki di bantu oleh lima puluh orang perempuan pun bekerja berat mengubur mayat dan segera bersiap pindah meninggalkan tempat itu.

Alkisah seorang tamid yang di percayai Bahroiy sebagai penghulu tamid itu bernama Tsiming anak tiri Abayt karena dialah yang tertua dalam lanah itu dan dialah pembangun lanah itu jauh di kaki sebuah bukit yang sepi.
Maka Tsiming pemuda tua itu mencoba meminang Mahmay tetapi dengan halus Mahmay menolaknya karena akhlak Tsiming itu congkak dan kurang senonohlah menurut pandangan Mahmay dan perempuan-perempuan tua dalam perkampungan itu.
Maka seringlah Tsiming berbantah mulut dengan Mahmay pewaris Bahroiy itu, sehingga akhirnya Tsiming pergi meninggalkan lanah itu di persiapkannya beberapa ekor kuda yang anggun dan di bujuknya beberapa orang kampung agar mengikuti kehendaknya itu, lalu sehari semalam perjalanan sampailah mereka akan tempat kediaman Zisyuk itu yang berpenjaga kuat, maka segala penjaganya itu orang-orang kuat berbaju zarah dan badannya itu serupa raksa juga.

Maka Tsiming datang dengan tiada bersenjata dan ada membawa hadiah tiga ekor kuda tunggang yang anggun dan jinak, maka penjaga itupun membawa Tsiming masuk menghadap lalu Tsimingpun bersujud pada kaki Zisyu minta ampun, lalu Zisyu mengangkat Tsiming di hadiahinya pakaian sepersalinan yang indah terbuat dari sutera tebal dan sepasang sepatu berhias bertatahan emas. Tsiming di angkat sebagai panglima agar terbujuklah sekalian pemberontak suku Wigu.

Maka berdiamlah Tsiming di istana Zisyuk yang berbentuk kereta besar itu dan ia mendapatkan hadiah pula tiga orang gadis cantik, maka pernahlah tiga sampai empat kali Tsiming diutus Zisyuk membayar upeti kepada maharaja Cina.

Maka pada suatu malam Tsiming membawa sepasukan asykar hendak merebut lanah sisa lanah Bahroiy itu dantelah berpecah-pecah sebahagian anak lanah itu orang baharu dan perempuan-perempuan lanah telah tiada lagi mereka telah pergi meninggalkan lanah itu.
Maka Tsiming pun segera menyerang lanah itu dengan kobaran api, anak lanah tengah berjaga-jaga itu pun segera membalas tetapi semuanya mandi darah, maka Mahmaypun turun berbaju zirah dan mengamuk sampai patahlah pedang itu, beberapa orang asykar jatuh terkapar, Mahmay berdebar dan serasa lemah sehingga ia tertangkap mak bersorak-sorailah asykar itu, maka di iringkan Tsiming dengan tangan terikat mukanya runduk tetapi setitikpun ia tiadalah memercikan air mata, ia selalu memaki-maki pada Tsiming itu, berkata Tsiming: “Terlalu benyak dosamu Mahmay engkau akan ku hadapkan pada Zisyuk dan pasti engkau akan di kirim pada Tsuma, tahukah engkau siapakah Tsuma itu? Tsuma seorang pelebaya ia akan menyiksamu dan membunuhmu dengan jenis pembunuhan yang mengerikan.” Maka Mahmay tidak menjawab sepatah katapun dan di rasanya tali pengikat tangannya mulai lepas lelonggar, ia cepat-cepar menyambar pedang Tsiming dan di penggallah Tsiming sampai kepalanya terlempar jauh, maka Mahmaypun berpacu kuda, maka dua orang asykarpun menghadangnya, dan peteri Mahmaypun telah lemah ia tertangkap kembali dan iapun di bawa kehadapan Zisyuk. Maka Zisyuk bertanyalah akan dia: “Hai Mahmay engkaulah anak penghianat itu?” maka gadis itu pun tunduk tiadalah menjawab sepatah katapun, apapun yang di tanyakan Zisyuk ia tidak menjawab, maka meradanglah Zisyuk diludahi muka Mahmay itu dan di suruhnya seorang askar melucuti baju Mahmay itu lalu ia dicambuk Mahmaypun tertahan sakit tetap tak berbicara, lalu pakaian Mahmaypun disuruh kenakan kembali dan di suruhnya bawa akan Tsuma, ia di seret oleh dua bentara Tatar tegap.

Maka Tsuma pada saat itu tengah berbaring-baring demi dilihatnya gadis terikat itu datang beringkan dua orang bentara itu maka iapun bertanya: “Inikah gadis pembantah, tukang tenung itu?” Maka dipeganglah pergelangan gadis itu, lalu Mahmay menjawab: “Tidak rela tubulku di pegang laki-laki kafir semacam kamu.” Maka Tsuma pun tertawa lalu berkata: “Jangan lah engkau merah saying, engkau masih gadis sayangilah tubuhmu yang halus itu, dan ketahuilah aku akan menyayangimu sebelum kematianmu itu dan apapun yang engkau inginkan akan aku kabulkan kecuali dua ialah siksa dan kematianmu.” Maka Mahmay di masukan kedalam sebuah penjara tetapi di dalam penjara itu sangat mewah dan tersedia segala makanan yang lezat cita rasanya dan Tsuma selalu halus berbicara seumpama kepada anak kandung maka diluar ia madu tetapi hatinya empedu.

Maka adalah tujuh hari tujuh malam Mahmay terpenjara itu, pada siang hari ia bebas hanya kakinya saja terikat rantai besi, maka pada malam hari ia di masukan dalam penjara begitulah hukuman bagi seorang bangsawan menjelang hukuman mati bagi adat istiadat orang Kelin itu.

Maka pada hari ke delapan putusan perintah Zisyuk untuk mulai siksa badan sampai mati, suratpun telah Tsuma terima dan di perlihatkannya akan Mahmay lalu Tsumapun bertanya akan penasehat hukum seorang pendeta jahat penyembah berhala dan penenung pula Uqatz namanya katanya: “wahai mamanda siksa dan kematian apakah yang patut akan gadis semacam Mahmay ini?” Maka Uqatzpun menjawab: “Irislah seluruh tubuhnya mandikanlah dengan cuka atau bakarlah ia dengan pembakaran yang mengerikan”.
Maka Tsuma bertanya akan mahmay itu: “Dengarkah engkau petua tuan pendeta itu?” maka Mahmay pun menjawab: “Pada sariat kini aku sudah tidak dapat berlepas diridari siksamu itu tetapi aku tidak takut sedikitpun kerena siksa Allah itu terlalu amat pedih biarlah aku menjadi kurban kejahilan tetapi semoga dosaku diampuni-Nya.”

Maka iapun tunduk menitikan air mata lalu ia bertanya halus: “Bukankah sebelum aku mati bila ada suatu pinta engkau kabulkan kecuali siksa dan kematian.” Maka sahut Tsuma: “Apakah permintaanmu itu?” Berrilah aku air untuk berwudhu.” Maka di berilah air bersih dalam bejana, berwudhulah ia dan shalat. Aku apakala tunailah shalat dua rakaat, Mahmaypun berkata: “Silakanlah tuan-tuan menyiksaku bila ini sudah ditakdirkan Tuhan bahwa aku harus mati dengan dalam ini.”

Lalu Mahmay di bawa Tsuma dan Uqatz dan sepulun orang asykar penjaga, rantai pengikat di buka tetapi sudah tidak berdaya untuk menyanggah dan membantah sampailah akan sebuah tanah lapang dekat sebuah rumah bentuknya mirip rumah berhala atau biara, maka kata Tsuma: “Siksaan itu hendak di mulai kukenakan dan pakaianmu hendak ku lucuti.” Maka Mahmaypun menjawab: “Haramlah seorang laki-laki itu melihat aurat perempuan dan siksalah dan bunuhlah aku dengan berpakaian lengkap ini.” Maka berteriaklah Zisyuk: “Bukalah, lucuti, aku ingin menjadi saksi bagi kematianmu itu.” amka Tsuma pun berkata: “Hai Mahmay janganlah engkau membantah juga.” Maka ditariklah baju Mahmay itu sampai koyak-koyak, maka Mahmay pun menjerit sambil berkata: “Bila itu engkau kehendaki aku lucuti pakaianku sendiri tubuhku tiada mau kauraba …..haraaaaam.” Maka Mahmaypun melucuti pakaiannya lalu ia duduk bersimpuh rambutnya terurai sengaja penutup tubuh.

Maka Mahmay di paksa untuk berdiri lalu di ikatnya akan sebatang tonggak, mula-mula ia di cambuk seraya dimaki sampai tubuhnya lembam-lembam, lalu Tsuma mengambil sebatang pisau kecil tajam, maka sebahagian tubuh Mahmay pun di irisnya sehingga darahpun bercucuran maka Mahmaypun memejamkan mata menahan kepedihan itu seraya bertahan nafas tetapi irisan itu tiada lanjut, Tsuma berkata: “Hai Mahmay apakah engkau hendak mencahari kematian dengan irisan pisau ini lalu ku mandikan dengan cuka atau engkau dipilih di bakar hidup-hidup agar tubuhmu tidak bersisa.” Maka Mahmaypun teruduk dan akhirnya ia mengangguk, maka kata Tsuma: “Kululuskan apa yang engkau pinta.”

Maka asykarpun mengumpulkan kayu bakar, apakala telah siaplah sudah, maka Mahmaypun di lepaskan lalu disuruh naik akan tumpukan kayu bakar itu ia di suruh bersimpuh lalu kaki dan tangannya diikat. Maka kata Tsuma: “pejamkanlah matamu.” Lalu Tsuma suruh ambil akan lemak, maka tubuh Mahmaypun di tarak dengan lemak itu. maka Tsumapun turun lalu ia berkata pula: “Bukankah keturunan Budha itu harus mati di bakar?” Mahmay diam seribu bahasa dan memejamkam mata. Maka apipun mulai berkobar dan kayu bakar itu mulai di makan api tak lama kemudian apipun menjilati tubuh Mahmay maka ia berteriak menjerit-jerit dan suaranya tak terdengar lagi ketika ia bermandi api. Maka Tsuma dan Uqatzpun ia segera mengumpulkan sisa-sisa abu dan tulang Mahmay itu dan pada masaitu Zisyuk telah mati terbunuh atau bunuh diri mungkin tergilalah ia melihat tubuh gadis itu di makan api dan di tikamkannya keway beracun akan hulu hatinya.

Maka Tsuma sambil memegang bangkasan tulang itu berteriak katanya: “Rajamu yang selalu membawa pada kebinasaan itu telah mati ……….” Lalu ia melihat pasukan asing mulailah menyerang dan asykar seorang dua orang telah mati terpanah, maka Tsuma naik keatas sebuah bukit dan berteriak pula: “apakah kalian hendak takluk kepada kesultanan Gazni atau pada raja bangsa Katay?” Tak lama kemudian Tsuma terbunuh dan orang-orang Islam yang sangat sedikit jumlahnya itu memilih kesultanan Gazni dengan tempik bersorak.

Maka pendeta Uktzpun bersembunyi dekat biara tempat pembakaran itu tetapi seorang asykar asing segera datang menyeret dia dan membunuhnya segera.
Maka itulah hikayat Bahroiy dan Mahmay, maka konon perihal diri Bahroiy sendiri terlalu gelap, sahibul hikayatpun menutup diri.
Maka konon karena tiadalah usai Bahroiy itu menyampaikan ilmu, maka aliran Bahroiy pun kurang sempurna dan tiadalah berapa berkembang.
Hikayat Bahroiy melukiskan suri sanya bila orang-orang Islam itu sedikit dan patuh akan ke Islamannya itu berdiam dalam sebuah kerajaan bangsa kafir yang ganas maka umat Islam itu tertindas tetapi bila orang kafir itu sedikit dan berdiam dalam sebuah kerajaan Islam, maka orang kafir itu di lindungi dan bebas berigama.
Makasanya Shurulkhan itu terpecah dam sembilan aliran, kesembilan aliran itu ialah:

-Payuk
-Orluq
-Tae Fatan
-Bahroiy
-Namsuit
-Syirulgrul
-Suyi
-Krait
-Naiman

Maka kesembilan aliran itupun di coba untuk dipadukan kembali tetapi hanya menimbulkan aliran baharu: Syufu Taesyukhan dan Thifan

Leave a Comment