HIKAYAT ZHODAM : III. Hikayat Namsuit

HIKAYAT NAMSUIT

Alkisah adalah dua orang laki bini pengembala di alukan kota pegunungan San Yu, suaminya bernama Pelang Woya dan istrinya bernama Ika’ keduanya keturunan campuran Cina dan Mongol; maka Pelang Woya atau Khanwo itu bekas seorang asykar Mongol di khanat utara.

Sanya Pelang Woya itu seorang penganut ajaran Budha, sejak delapan belas tahun ia masuk asykar karena kakinya mendapat cedera ia tiapun tiadalah terpilih kembali sebagai asykar itu, lalu dipilihnyalah pekerjaan baharu sebagai pengembala ternak. Maka pada suatu hari suku Hun berperang dengan kerajaan Wai, raja kota San Yu pun mempersenjatai seluruh laki-laki kota itu karena suku Hun melintasi dan merusuhkan pula kota itu; alkisah Palang Woya mempenghului seratus orang asykar carakan dan terdiri atas anak-anak belia usia, tiga puluh orang ada terbunuh, Pelang Woya pun penuh luka dan meninggallah beberapa hari kemudian, maka Ika’ istrinya itu tengah hamil dan tertawanlah oleh asykar Hun.

Syahdan dikala suku Hun menyerang Khanat tengah, Ika’ pun ditinggalkan ditengah suku Tayli lalu Akun seorang keturunan bangsawan menikahinya dan Ika’ pun masuk Islam enam bulan kemudian ia melahirkan dan dinamainya anak itu Namsuit ia berpakah akan Akun. Apakala Namsuit tengah belia ia dimasukan dalam lanah untuk menuntut segala ilmu Syara, maka dalam lanah itupun diberinya pula ilmu pembelaan diri. Syahdan bersama dengan Je’nan ia mengubah beberapa jurus dari aliran Shourim Utara.
Inilah kisah jurus-jurus Namsuit.

Pada suatu malam ia bermimpi melihat dua ekor ular berkaki seperti terlukis dalam pahatan orang Cina. Maka dua ekor ular berkaki berpadu kepala lalu berputar melekuk antara keduanya dan lalu bertumbuk kembar akan sebuah bukit, maka terjagalah ia dan kala sudah terjaga itu masih terbayanglah bentuk ular berkaki yang kembar itu, lalu dijuruskan Namsuitlah dan dinamainya jurus itu: “Ling zhe kawt te kum” artinya: “Naga kembar tumbuk gunung”

Maka pernallah pula ia perhatikan seorang gadis tengah memanjat sebatang pohon ti lalu ditariknya buah anggrek noyt dan tangan sebelah pula menolak batang “ti” yang menjara muka gadis itu. Lahirlah jurus: “Noyt ze wa kha laytie” artinya “Petik anggerek di pohon ti”, ketika Namsuit melihat seorang puteri tangannya tengah berkemas hendak pergi lalu seorang puteri pula mengencaninya, terlalu elok gerakan kencan puteri itu dan akhirnya diciptakanlah “Nuruy tsuten” artinya “Peteri berkemas”.

Pernah pula memperhatikan seekor wund hendak meraih buah anggur, perkelahian seorang pengelana, eorang asykar tengah duduk lalu terganggu, seorang bangsawan tengah merintangi musuh, seorang tengah ungkitkan batu karang, perkelahian dua orang pengelana, seorang asykar tengah mendorong sebuah kereta sorang raja muda, elang tengah berkepak dan seorang belia berkelahi hanya mempergunakan sikut, maka lahirlah jurus-jurus:

Fuke ketli ey pend – Wund dambakan anggur
Tsude ne fit – Ungkit seorang penjarah
Firgi kho me’ ni – Simpuhan anak angin
Nouq ogul babay – Kesateria buang perintang
Tedsyu ey – Ungkitan batu karang
Tse ul ni kay – Serangan anak kelana
Kayla uzi cak – Mendorong kereta emas
Korey ni fuen – Kepak elang putih
Te utgul te kay – Sikut kembara

Maka ditambahinya dengan hakai dari gerakan Shourim yang diubah dan diawali tinju Wigu dari sepak tinju anak belia orang Wigu, disusunnya gerakan tinju itu lalu lahirlah jurus-jurus Wigu po’er lalu Je’nan pun memberikan nama akan segala olah jurus-jurus itu.

Maka akan hal segala tangkisan disusunnya dan digubahnya dari cara tangkisan orang Turki, tangkisan Shourim, pembelaan diri Tayli, Kitan, Mongol dan Wai. Maka Namsuit pernah mengusik seekor anak harimau dipermainkannya anak harimau itu sehingga ia menyerang, diperhatikannya gerakan harimau itu lalu ia melakurkannya dengan jurus harimau Shourim itu, maka lahirlah jurus “Baberte’r – Jurus harimau”, diperhatikan pahatan lukisan naga orang Katay, lahirlah “Lingte’r – Jurus naga”, digubahnya jurus bangau orang Seadong, jurus merak orang Tayli, jurus kera Shorim, maka lahirlah jurus-jurus “Pilate’r – bangau, Thoste’r – merak dan Fukute’r – jurus kera”.

Maka rahapan-rahapan jurus itu digubah dari cahara Mongol, Kitan, Naiman, aliran Shorim dan gubahan Namsuit sendiri dengan memperhatikan gerakan beberapa ekor binatang ayam, kera dan kelelawar. Maka lahirlah rahapan-rahapan jurus:
Nesti peyne’ – kepala ayam jantan merahap
Fuku ne’I – rahapan kera (ketika dipanah)
Fuku ne’I tseng uy – rahapan kera padamkan lampu
Gio gul ne’I kutsin – bunga tertiup angin
Neyt tedsyi – rahapan bidadari, menceriterakan seorang laki-laki nakal hendak mengambil perhiasan diatas kepala seorang gadis yang cantik lalu gadis itu merahap dan menyanggahnya.

Rahapan kera merampas kelelawar yang terbang arah muka seekor kera, melahirkan fuku neit dsyi ey – rahapan kera merampas kelelawar dan tudsyi kay tsen – rahapan seekor kelelawar.

Maka setelah diubahnya semua jurus itu dan ditelitinya selama bertahun-tahun dan dicobanya dalam perkelahian dan turgul lalu dituliskanlah oranglah atas suruhan pendekar Namsuit itu dan diubahnya apakala ada kesalahan gerak lalu dicobanya pula berjurus dengan pelbagai macam senjata.

Syahdan bersualah Namsuit dengan seorang anak muda belia Je’nan namanya dan bersahabatlah sehingga akhir hayatnya dalam pembelaan diri akan keselamatan Je’nan itu.

Maka banyaklah keistimewaan pendekar Namsuit itu di mata anak lanah, seumpama: ia pernah meremas batu hidup dengan tangan kosong denga pengerahan dahtnya itu.
Maka seorang tamid pernah memperhatikan pancaran daht dari jari-jari Namsuit itu serupa sinar api. Berceriteralah Syo Lirt: “Kala pendekar Namsuit berjurus terlintaslah kemukaku seberkas sinar semacam sinar api layaknya, maka aku menoleh dan tampaklah memancar dari jari-jari pendekar itu”.

Maka padasuatu hari jum’at adalah pendekar Namsuit itu turun masjid lepas shalat, maka seorang lawan Namsuit dari pada suku Ung yang biasa menyamun itu melemparkan sebilah pisau kearah lehernya itu, maka cepat ia merahap dan ditangkapnya pisau itu dengan dua batang jarinya.

Maka orant Ung itupun ditangkap pengaman masjid ia hendak melarikan diri dan diterjangnyalah pengaman masjid itu sehingga terpelanting, lalu Namsuit pun menangkap orang Ung itu lalu dinasehatinya sehingga orang itupun menangislah dan minta ma’af, maka Namsuit memberinya beberapa keeping uang mas, pergilah orang itu dan konon dua tahun kemudian ia terlihat menjadi penghuni masjid kini ia bekerja menjadi pengembala ternak seorang takah mir yang kaya raya.

Shurulkhan lie tawae Namsuit
Kie kathay woi Shorimze cit
Toy Buddhete rmeit I lenji’I
Cay Islamnaa dien foi lie am
Kawtay maet lie yatehz tazji
Oiy ma’noy lkaw lulu pay boo
Taenti urwunti tzi Kumfukhan

Syahdan aliran Namsuit itu dimasukan Urwunti Tsani keturunan Ismet Urwun Tsan dalam Kumfukhan yang sedikit berlainan dalam aliran Thifan dalam olah gerak seumpama dalam cahara berjurus binatang dan dalam cahara berahap jurus. Maka dalam Kumfukhan Lama tiadalah syikla hakai.

Syahdan adalah seorang pendekar muda Amet Tsolhar namanya ia pernah berguru akan Namsuit sepuluh bulan enam hari lamanya lalu ia berguru akan pendekar Jundunkhan, maka kagumlah ia akan kehaibatan Jundunkhan itu, seorang tamid Namsuit pernah menyaksikan tamid Jundun itu berturgul tatkala ada persahabatan yang terjalin antara kedua lanah. Maka Jundun pun melirik dengan isyarat akan tamidnya tengah turgul itu lalu berjuruslah dengan pelabagai jurus hayawan sehingga tamid Namsuit pun alahlah sudah, maka tamid Namsuit pun memeluk lawannya itu dan menitikkan air mata lalu katanya: “Bila engkau dahulu telah turun tiadalah kami mendirikan lanah pelarian engkaupun dapat mengalahkan musuh-musuh kami yang jahat” maka Amet Tsolkhar segera segana datang lalu menghormat akan Jundunkhan lalu ia bertanya akan alirannya itu, maka katanya: “Wahai guru, apakah nama aliran dibawa tamid guru itu?” maka sahut Jundunkhan: “Itulah pangkal ilmu orang Thifan”.

Maka dibeletik Amet Tsolkhar akan seuntai selati:
Shurulkhan ni Thifanpokhan way lgu
Ni tao Kumfu ke huyt fang i jundun
Fat zhi fga Namsuit ske daht zhulu
Ma hum zke ni tamidzi fang lie uts
Mahnayt kawzhi khamna daht oalaght
Hamnay tuyuk turgulu fah fu nuatst

Maka Jundunkhan turun ke haraqt maka diserunya akan sekalian tamidnya itu, maka tatkala telah berkumpul sekalian tamidnya itu, lalu turunlah amir lalu kata amir itu: “Wahai kalian tamid saksikanlah sanya ada seorang terhukum kisas karena ia telah baker istrinya sendiri tatkala istrinya itu tengah tidur nyenyak sebab ia harapkan harta istrinya itu, maka saksikanlah guru kalian hendak hukum orang itu”.

Maka seorang bertopeng dan terikat kedua belah tangannya itu diiringkan dua orang asykar lalu tuan qadlipun ada serta, maka tuan qadli bacakan keputusan itu dan terhukumpun duduk bersimpuh merundukkan kepalanya lalu Jundunkhan bertarik nafas berkuda-kuda lalu dipancarkannya daht beracun panas sehingga tubuh orang itu legam-legam, pingsanlah orang itu lalu asykarpun mengambil bejana berisi air disiramnya orang itu sampai siuman kembali lalu Jundunkhan pun salurkan daht dingin peracun yang dapatlah meresap sampai ke pangkal tulang sehingga pesakitan itupun menjerit-jerit. Maka akhirnya dipenggal pelebayalah akan pesakitan di muka masjid apakala telah tunai berjum’at. Maka alkisah pergilah Jundun beserta tamid-tamidnya itu berkembara kearah barat dan hal ikhwal dirinya itu tiada pernah terdengar kembali.

Maka adalah seorang tamid Namsuit, apakala Namsuit belum bersua dan bersahabat dengan Je’nan itu. Maka tamid itu seorang anak petani yanmg miskin, ayahnya memperkebunkan ladang kepunyaan pembesar didaerah pegunungan. Ukhay Zain namanya.

Maka pada masa kecil Ukhay Zain itu dibawa mamaknya berniaga ke tanah Cina dan lalu pulang membawa sutera Cina itu ke barat melalui korokan jalur sutera itu, adalah mamaknya mempunyai berpuluh ekor unta untuk mengangkut barang-barang itu.
Alkisah di benua Cina itu ia pernah tinggal lima tahun lamanya, ia pernah belajar mengkaji pelbagai macam ilmu perkelahian di daerah orang Han itu.

Pada suatu hari pernah seorang pembesar Ming menganugerahkan sebutir permata yang terlalu amat mahal kepadanya karena pembesar itu diselamatkan Ukhay dari serangan sepuluh orang pemberontak yang datang bertakak-cegak unmtuk membunuh, maka Ukhay Zain pun turun kalang karena ia tahu akan kejahatan pemberontak itu dan ia pernah hendak dirampuk pemberontak itu, maka diputarlah toya dan ia bergerak menghancurkan serangan pemberontak itu, senjata ditangannya banyak terlepas, senyampang dilihat seorang Han pula akan hal itu maka tak lama kemudian bantuan asykarpun tibalah sehingga pemberontak itu tertangkap juga.
Maka Ukhay Zain pun diajak masuk istana pembesar itu dan dipersalinnya dengan pakaian mewah dan mamaknyapun demikian, sanya pembesar itui seorang Muslim yang sangat dekap pada maharaja.

Maka alkisah Ukhay Zain pun menjual permata itu lalu dijadikannya pangkal usahanya itu tatkala ia kembali pulang kekampung halamannya itu lalu dibawanya serta seorang perempuan Cina yang dinikahinya, makasanya lalu Ukhay Zain pun melanjutkan usaha mamaknya itu berniaga ke Cina apakala ia belengang luang waktu ia mengajarkan ilmu pembelaan diri itu dan Ukay Zain itu tiadalan membangun lanah dan sekalian tamidnya itupun tersebar tiadalah terhimpun, maka Ukhay Zain pun membawa ilmu pembelaan diri Namsuit yang merupakan dasar ilmu Thifan itu.

Akan hal keistimewaan Ukhay Zain itu ia pandai belat berlompat gelung berbalik-balik, ia pandai berlopat tinggi ia biasa meragakan ekor naga menyapu bumi.
Tatkala lanah Utara kepunyaan suku Doghan Tengah itu di serang suku Hun Tenggara yang pengganas itu, maka turunlah ia bersama seorang anak-laki-lakinya dan ia menamak dan sekira lima puluh orang suku Hun itu terbunuh dan luka sangat.
Maka berkembara pulalah Ukhay kearah barat dan iapun menetap pada tempat yang sunyi berumah megah dan pembesar-pembesar. Turki pun biasa berkunjung lalui anak-anak khan dan sultanpun banyak belajar akan dia sehingga bahagialah hidupnyaitu sampai akhir hayatnya itu.

Maka ada pula dua orang tamid seorang bernama Saat Liut dan seorang pula Wustha Lo keduanya bersaudara maka tamid-tamid ini pernah mengkaji ilmu berguru akan Bahroiy itu telah tiada maka kedua orang tamid itu berguru akan Ukhay Zain.
Syahdan apakala raja Kotzukhan memerintah dengan urat kemurkaan dan kelalimannya itu, sekalian penghuilu negeripun terlalu amat berduka, segala kesalahan dihukum dengan berat, fitnah meraja lela, pembesar-pembesar negeri menjilat kepada raja, apa yang raja kehendaki halallah sudah menurut fatwa mifti walaupun perbuatan itu haram adanya.
Maka adalah Kotzukhan itu pernah pula berguru akan Namsuit dan pernah pula panggil Suyi untuk berlatih segala kekuatan. Maka raja Kotzukhan walaupun ia menamakan diri Islam tetapi terlalu amatlah jauh lakunya itu dengan peri laku seorang muslim, isterinya itu seratus orang dan dijagalah oleh hamba laki-laki yang berkebiri dalam sebuah gedung iabangun gedung raya itu dengan segala kemewahanya. Maka apakala ia dengar akan kecantikan istri Wustha Lo itu maka ia pinta seraya denganm segala ancaman yang mengerikan.

Maka Wustha Lo melarikan diri beserta isteri dan Saat Liut saudaranya itu ia menghimpun suatu asykar ada sekira sepuluh ribu orang banyaknya, maka timbullah pemberontakan kepada Kotzukhan itu.
Alkisah pemberontak-pemberontak itu telah melingkari istananya itu lalu pasukan Pendekar Sutera Merah pasukan istana itu banyak berguguran, maka Saat Liut dan Wustha Lo naik benteng dan merayap serupa cecak lalu masuk ke tangah ruang istana lalu ia bersanggahan dengan pasukan istana itu, maka tatkala pasukan istana itu mundur karena mempertahankan pinti gerbang istana, Saat Liut sempatlah sua lantak dan membunuh Kotzukhan itu dengan tamparan mautnya tetapi ada kesempatan bagi Kotzukhan memanfaatkan tenaga terakhir dengan memasukan tangan akan perut Wustha Lo sehingga terjulur keluar gugurlah ia tertimpa mayat raja Kotzu tengah gergasi itu.
Maka Saat Luit mendapat kemenangan ia menikah dengan bekas isteri Wustha Lo ia menjadi pimpinan akan negeri itu kala seorang anak raja masih terlalu muda untuk memerintah, kala anak raja itu telah padalah sudah untuk memerintah itu, Saat Liut pun lalu pimpin sebuah lanah kerajaan, tatkala kerajaan itu jatuh ketangan Timur I Lang, maka Saat Liut pergi meninggalkan lanah itu, ia pergi beserta keluarganya dengan sebuah kereta.

Perkembangan pengobatan pada masa Namsuit

Maka akan hal ilmu pembelaan diri itu tiadalah dapat berlepas diri dengan tautan ilmu pengobatan atau ketabiban itu, maka Namsuit pun apakala ada seorang tamid itu cedera ia obati, pada suatu hari ada seorang tamid terkena gada akan kaki kanannya itu sehingga hancur luluhlah akan tulang kakinya itu maka Namsuit puin melasah kakinya itu lalu dialarlah dengan balutan kain sutera dan sebilah tulapan kayu maka sepekan kemudian telah pandai berjalan.

Maka Namsuit terkenallah akan ilmu pengobatan lasah tulang, iapun akhli ilmu konuq ialah tusukan jari dengan jari tunggal dan jari kembar serta ilmu ketukan palu akan arah alur ulught. Maka palu itu ada enam buah palu sulung sekira ibu jari terbuat dari logam perak dan yang terkecil itu sekira kelingking.
Maka akan hal ilmu peramu itu merupakan lakuran pengobatan Hindustan, Cina, dan Tatar.

Maka segala pengobatan dengan jari dan palu itu bersaluran daht juga.
Maka pada saat itu segala olah sentay itu dengan berjurus juga, maka tak lama kemudian berkembanglah sentay itu yang merupakan gerakan-gerakan mukadimah untuk peruak jurus, sentay itu lahir manakala terjadi seorang tamid itu salah urat sehingga tak bergerak dan kesakitan yang amat sangat kala berjurus itu, maka lahirlah untaian gerakan awal jurus yang dinamakan sentay dan ada pelbagai macam sentay itu ada sentay peruak jurus ada sentay pengobatan ada sentay pengurangan lemak tubuh untuk kecantikan.
Maka sentay itupun diberi ilmu pernafasan maka konon ilmu itu berasal dari Hindustan dan berkembang melalui cahara Toga atau Yoga, maka karena ada unsur peribadatan bertolak syara didalamnya gerakan Yoga itupun dihilangkan dan diambillah cahara pernafasannya itu.

Leave a Comment