Hikayat Ukhan

Syahdan di padang rumput pada masa pagi-pagi itu Ukhan pun keluar lepas lanah, ia selesai menuntut kaji ilmu dari lanah itu.

Maka tatkala orang tuanya itu bertanyalah peri ilmu yang ia kaji itu, maka berceriteralah Ukhan, katanya: “Sanya aku diajar ilmu Islam dan ilmu turgul maka ilmu Islam itu diajarkan ahund kepadaku dan ilmu turgul itu diajarkan sokh kepadaku, ahundku bernama Mokhtar Beg dan sohkku bernama Tsakhu Yakhu maka adalah kepandaian ahundku itu tak tertara maka ia hafal akan Al-Qur’an dengan tiada berbaca kitab, maka iapun hafal hadits-hadits nabi lebih seribu kiranya, ia ajarkan fikhi dan guruku pernah menuntut ilmu itu di tanah jauh pernah di Damsyiq, pernah di Asqalan, pernah di Isfahan, pernah di Bagdad dan dikajinya segala kitab Ibin Hazmin itu sehingga banyak dikatakan orang ada menyimpang tetapi sanya ia seorang ahund yang shalih dan terlalu amat tekun.
Maka apakala aku diajar ilmu turgul itu maka ahund duduk memperhatikan sokh mendidik tamid itu dan ia sering tersenyum dan menegur seorang tamid baharu yang tiada tekun berlatih itu.

Maka aku memilih Taesyukhan Syufu sebagai ilmu turgul itu maka di lanah itu aku dilatih ilmu Syufu itu apakala aku telah hafal Al-Qur’an dan kawanku memilih Orluq Taesyukhan.

Maka diajarkanya ilmu itu akan semua tamid pada dini hari apakala selesailah bertahajud lalu apakala adzanpun bergema akupun shalat shubuh berjama’ah lalu mengkaji ilmu syara lalu apakala siangpun dating aku berlatih kembali sampai matahari naik dan apakala matahari telah condong berhentilah jeda. Maka pada petang hari aku mengkaji pelbagai kitab berbahasa Arab lalu ahund terjemahkan apa yang tiada kumengerti dengan bahasa parsi lalu ia terjemahkan kedalam bahasa kita itu, aku disuruhnya menghafal apakala aku mengantuk atau kurang simak maka seorang wakil guru itu mencambukku sehingga aku sadar kembali.

Maka ketika lepaslah aku segala ilmu dalam lanah itu telah dikajikan kepadaku dan sanya bukan aku berarti habis tuntut ilmu itu hanya aku selesai pada sempadan ilmu dalam lanah itu, maka aku diuji segala ilmu syara yang pernah terkaji lalu kecekatan berkuda, bermain pedang, toya, dan segala persenjataan itu lalu aku disuruh keluar melalui pintu dan pintu itu terjaga dengan dua bilah pedang besar bergerak bersambungan maka aku selamat melalui pintu itu hanya bajuku sedikit koyak.

Maka guruku pernah berpesan manakala aku hendak melepas lanah itu, katanya: “Ho tsi wakp in Taesyukhan suy u’loq nunk jzi avlay lakin yun shit kotli uqnie avluq munafiqin’r tawli ant saytsyu nie kufan wats Allah subhana wat ‘ala”. Yang artinya: “Kami wakapkan Taesyukhan dan tidaklah kami hadiahkan karena takutlah menjadi milik pribadi lalu jatuh pada tangan munafiqin yang merupakan musuh dalam selimut semoga Allah SWT menjadi saksi wakap ini”.

Adalah aku pernah berlatih berjalan kaki dari tanah Wigu ke tanah Samarkand aku berangkat dari negeri Uremci pada masa lepas shubuh, maka kiranya ada berjarak seribu dua ratus mil.

Maka di tanah Wigu aku bersuah ziarah ke tempat segala guru dan sokh terkenal dan pernahlah aku berkunjung pada guru Ma Zen Ung dan guru itu pernahlah berkirim surat akan guruku dan jawaban surat itu kusampaikan kembali dengan naik kuda dan perjalanan itu ada empat hari tiga malam dan dalam perjalanan itu aku pernah terlibat perkelahian dengan sekawan penyamun suku Hun, lalu kutundukan mereka lalu kusampaikan pula surat jawaban akan guru Ma Zen Ung, maka Ma Zen Ung tampak tertawa membaca surat itu dan ia menyambutku sepantun anaknya sendiri lalu isi surat itu ia terjamahkan kepadaku dan isi surat itupun bersangkut akan kewakapan ilmu Taesyukhan itu. Maka apakala hendak pulang aku diberinya bekal dan aku diberinya pula sebuah kitab Al-Qur’an yang ia tulis sendiri lalu empat orang tamid mengantarkan aku sampai ke perbatasan.

Maka aku pernahlah mengucapkan baiat di lanah itu dan diucapkan bersama apakala fajar pertama, baiah itu berbunyi:
1.Sentsi ni Allah serketi – Aku tidak akan menyekutukan Allah.
2.Tsuki layt fga nuoq hu fu Allah zhiek in – Aku akan menjalankan perintah Allah itu dan menjauhi laranganNya.
3.Hodzi tul amar ma’ruf nahi munkar – Aku akan selalu amar ma’ruf dan nahi munkar.
4.Sekyi wolt tsi ruol zhin kha ilm intz – Tidaklah aku bertekebur dan tiadalah aku putus mencahari ilmu.
5.Sodsyi yo khaf fu nu tuyuk Islam ke – Aku akan selalu waspada terhadap musuh-musuh Islam itu.
6.Noshin tsyud int cziu fznk kefe – Tidaklah aku helak menganut faham-faham kafir.
7.Noh uatz zhin fa dar-i-Islam sekyi astizha syug bagluk Islam syart – Bercita aku mendirikan negeri berhukum Islam demi terlaksana hukum Islam itu dalam segala bidang.
8.Ghu layt fa nit e Kumf wa Taesyukhan jzi kefe – Tidaklah aku akan ajarkan Kumfu Taesyukhan itu kepada kafir.
9.Son-ji re sdyu ittu’ khuerefe, bede’et syar ibadat – Tidaklah aku hendak masukan unsur-unsur segala khurafat, takhayul perusak akidah, ibadat.
10.Sukdsyi ul puag nha tse ut ahebiye’hn – Tidaklah akan aku masukan dan tidaklah aku menganut faham kebangsaan.

Maka dalam lanah itu aku berkawan dengan anak-anak Teyli, Wigu, Cina, Fatan, Turki, Uzbeg, dan banyak ragam suku-suku itu.

Maka apakala ada suatu perselisihan maka gurupun melerai dan menasehatiku dan katanya: “Tidaklah ada kelebihan suku dan suku kecuali akan hal takwa”.
Alkisah adalah Ukhan itu tiadalah mahu bekerja kepada khan dan khanpun kurang suka kepadanya karena ia dianggap kepala batu, ia lebih suka berniaga dan lepas berniaga ia mendidik beberapa orang tamid dari keluarganya dan tiadalah ia turunkan ilmunya itu kepada orang lain.

Maka ia pernah difitnah dan pembesar negeri hendak menangkap dia karena dianggap sebagai perusuh tetapi Ukhan pergi untuk sementara meninggalkan negeri itu masuk kawasan Gazni.

Maka Ukhan itu bersuku Doghan sukunya itu pernah ikut menjadi asykar Zenghizkhan dan Kubilai Khan lalu seorang pimpinan suku itu pernah diangkat wazir pada masa pemerintahan Kubilai Khan.

Maka Ukhan terkenal kepandaiannya dalam ilmu Syufu itu, manakala ia memukul lawan seperempat saja maka serasa hancurlah tuhuh lawan itu, iapun biasa mengatur pukulan panas dan pukulan dingin, seorang kena pukulannya itu pernah sakit sampai tiga tahun empat bulan.

Maka lompatannyapun tinggi, ia pernah perang di atas atap menghadapi serangan bangsa Urkit itu. Maka apakala ia terlalu tua ia menjadi guru lanah iapun dipanggil pula ahund karena mengajar pula dalam seluk beluk ilmu Islam itu. Maka akhirnya Ukhan turun memerangi orang Lama dan ia meninggal setelah kira seratus orang dibunuhnya, tubuhnya luka-luka usia Ukhan pada masa itu sekira lebih seratus dua puluh lima tahun, kemenangan pada suku Muslim lalu sebagian daerah orang lama masuk kesultanan

Leave a Comment