Hikayat Khaleda Bathar

Syahdan Khaleda Bathar itu seorang puteri Mongol ia seorang puteri pendekar ia anak seorang tabib pendekar dan seorang alim; maka tatkala terjadi perang Fuk yang kedua dan daerah orang Fuk itu diserbu bangsa Krakit penyembah berhala, masjid itupun hampir direbut bangsa Krakit penyembah berhala itu, maka ayah Khaleda Bathar terbunuh lalu orang-orang Fuk yang mendapat luka itu dibawa kekemah dan dijaga akan segala perempuan, manakala asykar Fuk terdesak, maka menyerbulah suku Kraitijar ke kemah itu, maka Khaleda Batharpun mempertahankan kemah itu ia cepat menepik asyakar akan segala asykar perancanmg tamid itu berbantuan pendekar lanah dan segala sisa asykar Fuk berhari-hari dan adalah mayatpun berguguran menyempang adalah kabar akan asykar Turki lalu asykar Turki pun membantu asykar Fuk itu.

Maka tersebutlah panglima bangsa Krait Zuglag namanya, ia jatuh berguling kudanya kena peluru meriam Turki, lalu Zuglag menghadapi Khaleda Bathar dimuka kemah itu sehingga pedang Zuglag pun patah lalu Khaleda pun melemparkan pedangnya itu maka dengan sapuan kaki gasing, Khaleda pun dapat merobohkan Zuglag itu terampang akan tulang pelipisnya itu maka ia pingsan dan tertawan orang Fuk, maka bercerai berailah tentapan Krait itu maka sebahagian perusuh itupun lari berpacu kudanya.

Alkisah apakala Zuglag itu tertawan dan ditaruh akan sebuah ruang dekat masjid dan ia tertarik akan keramahan orang Fuk walaupun musuh diobatinya juga maka ia menyatakan masuk Islam maka seorang beliapun anak sulungnya itu masuk pula Islam dengan segala ketaatannya lalu ia lekarkan pundi-pundi uang mas itu dan suruhlah sekalian membuat sebuah masjid baru yang terukir lalu diserunya orang-orang Krait yang berbatas dengan orang Fuk itu agar masuk Islam maka sebahagian mereka pun akhirnya masuk pula Islam, syahdan Khaleda Bathar pun menikah dengan Abdurahman Uray putera Zuglag itu yang pernah menuntut ilmu kepadanya dan semula ia bernama Tsentsi Khan.

Makasanya ayah Khaleda Bathar yang ikut berperang itu terbunuh pula sanya ayah tirinya hanya masih saudara sepupu ayahnya itu, maka ayah asli Khaleda pun telah terbunuh pula, demikian kisahnya: maka adalah seorang tabib terkenal Saman Bathar namanya ia dipanggil untuk mengobati kepala suku, maka apakala tahulah dia akan penyakit kepala suku itu iapun pulang untuk mengambil obat, maka tatkala ia akan mendapatkan kepala suku kembali seorang utusanpun datang untuk mengambil obat itu, utusan itu seorang pendengki maka ditukarnya obat itu dengan darah seekor yak yang dibubuhi racun, maka apakala diminumnya obat itu ia mati seketika lalu utusan itu memfitnah tabib Saman Bathar itu, maka putera kepala suku itupun marahlah dan dipanggilnyalah segera tabib itu, apakala ia hendak naik janjang datanglah seorang asykar dengan pedangnya itu Saman Bathar itu dipenggal dan kepalanyapun jatuhlah. Maka Khaleda Bathar pun berayah tiri yang miskin maka ia setiap hari ia bekerja bersama dua orang saudaranya itu menjajakan obat-obatan itu, tatkala terdengar akan kecantikan Khaleda itu akan Timur–I–Lang maka ia dipinangnya tetapi ia menolak maka asykarpun menyerbu rumahnya kedua saudara laki-lakinya gugur dan Khaleda bersembunyi diantara mayat saudaranya itu kemudian ketika asykar berlalu dan memperlindungkan diri ke lanah Thifan ia diangkat anak oleh ahund yang tak beranak itu. Maka tiadalah lama ia diam pada lanah itu karena adanya terbunuh karena difitnah itu, maka ia berdiam bersama ibu dan ayah tirinya seorang alim dan tabib serta pendekar pula itu sehingga negeri Fuk untuk kedua kalinya diserang Zuglag dengan segala asykarnya itu yang diakhiri dengan perkawinannya dengan Abdurahman Uray itu.

Maka Khaleda Bathar bersama ibunya dibawa naik haji oleh suaminya itu dengan menaik kereta yang ditarik empat belas ekor kuda. Maka apakala ia pulang bertunai haji itu maharaja Turki pun mengangkat Abdurahman Uray sebagai sultan untuk daerah Fuk dan Lar.
Maka memerintahlah ia dengan adil dan bijaksana lalu negeripun aman sentausalah.

Leave a Comment