Hikayat Nana Fun

Alkisah tersebutlah seorang kuat perkasa Abay Lo namanya, ia terlibat dalam suatu pemberontakan kepada Hulagukhan, tatkala pemberontakan itu gagal maka Abay Lo pun tertangkap lalu dibawa kehadapan Hulagukhan itu, maka bertanyalah Hulagukhan kepada penghula asykar: “Siapakah nama tawanan yang bertubuh seumpama babi itu?” sahut penghulu asykar: “Dia orang Tatar ia Abay Lo tuanku.” Maka bertanyalah Hulagukhan kepada Abay Lo: “Hai orang Tatar engkaukah yang hendak berontak kepadaku? Sanya engkau serupa dengan tabiat binatang pengganas, hai menengadahlah engkau, apakah engkau hendak tidur sendiri atau engkau tidur bersama kawanmu?” maka sahut Abay Lo: “Perkenankanlah patik tidur bersama kawanku itu.” Maka titah Hulagukhan itu: “Baiklah engkau boleh tidur dengan kawanmu itu, kawanmu baharu tertangkap ditempat jauh lalu dibawa dengan kereta kuda dan kupenjarakan, tidurlah dengan nyenyak bersama kawanmu dan sebangsamu itu.” Maka dimasukkanlah Abay Lo kedalam kandang harimau benang seumpama harimau benggala layaknya maka harimau itupun segera menyerang Abay Lo itu tetapi abay Lo ada berpelewat menghindar dan dimasukkannya tebasan yang dahsyat akan arah rahang harimau itu sehingga hancur dan mati seketika. Maka Abay Lo merusakkan penjara itu dan ia pergi dengan tak peduli. Maka titah Hulagukhan: “Biarkanlah ia pergi” apakala kira empat layangan damak, maka Hulagukhan bertitah: “Hai kemarilah orang Tatar” maka Abay Lo pun menghampirinya, maka titah Hulagu pula: “Hai Abay Lo aku kagum akan segala keperkasaanmu itu kuharap engkau memperbaiki niatmu terdahulu itu, mahukah engkau berdiam diistanaku ini.” Maka sahut Abay Lo: “Ampun tuanku, dahulupun hamba hanya terbawa-bawa, tuanku dan segala titah tuanku akan hamba setukan.” Maka berdiamlah diistananya itu dan Hulagu yang tengah tua itupun jatuh sakit lalu meninggal, maka beralihlah dan turunlah akan kekuasaannya itu lalu seorang keturunannya itu telah Islam.
Maka alkisah seorang keturunannya itu bernama Zahiruddin yang bergelar Baberkhan raja harimau. Ia datang dari sebuah dusun dan sempat menjadi raja di Fergana ia seorang akhli Shurulkhan Kuna ia terkenal pandai meremas usus lawan sampai terjulur keluar maka takutlah raja-raja sekeliling akan dia iapun segera membentuk asykar yang kuat dengan pakaian copang-camping asykarnya itu menyerbu Gazni, Ghur, Penshab dan masuk ke Hindustan maka segala upaya asykar gabungan raja-raja Hindustan tiadalah berguna, maka Baberkhan merupakan raja Mogul yang pertama di Hidik yang berigama Islam maka dibentuklah diwan-i-syar’i, maka akan hal ihwal keberaniannya dan kepandaiannya itu diceriterakan orang dari mulut ke mulut.

Maka adalah saudara sepupunya itupun tetap di daerah utara dan ia mendirikan sebuah kerajaan kecil di arah utara Fergana itu tetapi tak lama kemuadian beralih kearah barat.
Maka alkisahlah cucu raja itu bernama Zahiruddin pula ia memerintah tanah Gayin, maka terkenallah keponakannya itu seorang puteri pendekar Nana Fun namanya atau biasa dia panggil puteri Funa ia pernah berlatih Syufu Taesyukhan pada Yuikhu lalu pada Shu Fawan.

Maka adalah Yuikhu itu seorang akhli Taesyukhan ia suka berpesai laku berpesiar menjelajahi negeri-negeri yang jauh dan ia pernah berdiam diistana raja Zahiruddin di Gayin itu, maka tamid-tamidnya itu terlalu amat banyak dan merekapun telah ada sebahagian mendirikan lanah.

Maka pada suatu hari tatkala matahari condongmeleku barat ia tengah berkuda di utara tanah Gobi tiba-tiba kudanyapun pegah dipegang penghulu perampuk samun,lalu turunlah Yuikhu menghampiri mereka semula timbul perbincangan keras yang berakhir dengan perkelahian, maka enam orang penyamun itu mati tetapi kepala penyamun itu berlindung akan sebuah batu pedah, maka Yuikhu menghampiri batu itu lalu dipukulnya sampai hancur dengan kelengkapannya dahtnya itu sehingga penyamun itupun agak bergigil ketakutan lalu berjanjilah kepala penyamun itu hendak membuang segala kelakuannya yang buruk itu, maka Yuikhu termenung diatas bukit memperhatikan penyamun itu pergi.

Maka adalah Shu Fawan itu seorang keturunan Cina dan Tatar ia dating berkuda dari arah timur Gayin ia turun dari sebuah bukit menjara sebuah kubu perusuh yang berontak akan kawasan raja Zahiruddin itu, perusuh itu Safwat namanya.

Maka turunlah Shu Fawan bertanya akan orang kampong itu: “Hai sahabat, kenalkan aku pada Safwat itu aku ingin berbincang dengan dia dalam persoalan darah.” Maka orang kampung tengah berdiang pada api itu mencemoohkannya, kata seorang diantara mereka itu: “Cis terlalu berbual mulutmu itu tahukah engkau siapapun tidak boleh menghadap kecuali seorang pembayar upeti.” Maka kata Shu Fawan pula: “Hadapkanlah aku kepadanya aku hanya menginginkan tengkorak kepalanya itu.” “Gila kamu.” Lalu Shu Fawan pun hendak dibunh mereka, tetapi Shu Fawan memutarkan toyanya yang berdaht sehingga mereka mabuk muntah darah.

Maka seorang kampung itu lari pada Safwat itu ia berkabar tentang seorang penunggang kuda yang sangat aneh, maka Safwat tengah duduk diatas kursi gading gajah berlapis mas, maka demi dilihatnya ada seorang berkuda datang, maka Safwat pun mengambil seruling sihirnya itu, lalu ia salurkan naht sambil berbaca-baca, konon seruling itu pusaka nenek moyangnya karena ia seorang keturunan Zenghizkhan yang pula ingin berkuasa penuh. Maka Shu Fawan langsung mendekatinya dan tiadalah bunyiseruling itu menyebabkan muntah darah, sega asykarnyapun hairanlah, lalu Safwan bertepuk, maka sepuluh asykar datang menghadang Shu Fawan itu, tetapi semua asykar itu mencium tanah, lalu Safwat pun puput pula serulingnya itu tetapi tiadalah lut hanya beberapa orang asykar kena pengaruh sehingga bergetar. Maka Safwat pun hunus pedang hulu emas melompatlah Safwat dengan ayunan pedangnya tetapi pedang itu terlempar tahikah toya, maka kata Safwat: “Turunlah hai bedebah mari berturgul aku kalah atau kamu kalah.”Maka turunlah Shu Fawan itu timbulah perkelahian dengan tangan kosong, maka segala ilmu Safwat tiadalah mencederai Shu Fawan itu karena kelincahan yang tiada tara itu dan ia selalu berkelahi dengan penuh tawa seumpama tengah main-main juga.
Maka tertangkaplah kepala Safwat itu lalu diputarnyalah kepala itu sehingga terlepas putus darahpun memancarlah, maka Shu Fawan itupun berkatalah akan segala penyaksi itu katanya: “Gantilah rajamu aku akan bawa kepala rajamu ini yusak untuk bukti.” Maka bertanyalah hulu balang: “Siapakah tuan.” maka Shu Fawan itu: “Akulah Shu Fawan.” maka iapun naik kuda tunggangnya kembali.

Maka sejak itu kampung itupun amanlah sudah dan segala pemerasan tiada terulang kembali, mereka selalu menanti-nanti kedatangan Shu Fawan kembali segala ceriteranya menjadi turun temurun. Maka Shu Fawan menyerahkan kepala Safwat itu kepada Zahiruddin.

Maka Nana Fun menkaji segala ilmu yang diajarkan Yuikhu dan Shu Fawan itu, maka apakala teranggap padalah bagi seorang puteri maka kedua pendekar itu seorang ke barat, seorang pula ke timur keduanya berlambai tangan dan sanya tiada bersua kembali. Maka Nana Fun terkenallah pandai menyalurkan tenaga daht peracun pada pedang maka dibentuklah pasukan Tureyt Lulu yang berarti Pasukan Mutiara Biru untuk menjaga puteri-puteri istana itu, maka karena terlalu amatlah Zahiruddin mencurahkan kasih sayangnya akan puteri itu. Tuan permaisuri mencekap segala dendam kesumat akan puteri Fun itu sehingga terasalah bahwa ia sangat dibenci oleh permaisuri itu, lalu ia serahkan kepemimpinan Mutiara Biru itu akan adik permaisuri dan iapun mundurlah dan tiada mahu berdiam dalam istana itu maka Zahiruddinkhan pun buatkan untuknya sebuah tempat tinggal yang indah.

Maka pada suatu hari pergilah Baginda Zahiriddinkhan itu berperang ketanah Ghuri maka terbukalah niat tuan permaisuri itu. Lalu ia panggil seorang hulubalang istana dan hulubalang itu bersaudara dengan tuan permaisuri itu dan dibisikannya maksud jahatnya itu maka dicaharilah dan diada-adakannya kesalahan untuk tuduhan akan Nana Fun itu lalu dijadikannya alasan mengapa ia keluar dari istana itu, maka tuan permaisuri memanggilnya dan diadilinya sendiri akan Nana Fun itu maka Nana Fun menyangkal segala tusuran itu tetapi sia-sialah karena tuan permaisuri sangat berkuasa sebagai wakil raja, maka permaisuri pun memarahinya dan memanggilnya pelebaya segera, lalu pelebayapun datang, lalu permaisuri menggunting rambut Nana Fun yang panjang itu, Nana Fun hanya menangis sambil bertekuk lutut lalu tangannya diikat dengan selendang dan pelebayapun memenggalnya maka darahpun membasahi permadani yang indah itu.
Maka Nana Fun dikuburkan pada kuburan biasa bukanlah pekuburan orang-orang bangsawan.

Leave a Comment