Hikayat Bukhar Hamatin

Maka tersebutlah Bukhar Hamatin seorang pendekar suku utara, ia terkenal karena mempunyai gerak pukulan yang terlalu amat cepat suatu ketika ia itu pernah terlibat perkelahian karena mendapat apak serangan suku Ouw dari perguruan Irhi Ling atau Liaga Hitam, mereka itu berigama Buddha campuran adat istiadat Cina Tengah, maka Bukhar Hamatin dapat menggagalkan segala serbuan itu dan sekalian penyerbu itu luka-luka dan sebagian mereka itu tertawan diantaranya terdapat empat orang puteri, keempat orang puteri itu sanya gadis curian maka akhirnya mereka memeluk Islam, seorang diperistri Bukhar Hamatin, seorang diperistri oleh Otman, seorang diperistri Ali Wohya maka seorang pula karena terpanah tiada lamapun ia meninggal.

Alkisah Bukhar Hamatin pernah dipanggil sultan Uliq Karay untuk melatih pasukan kesultanan itu, maka seorang pelatih pula berhati dengki akan dia maka difitnahnyalah Bukhar Hamatin itu dengan tukan hendak mengetahui rahasia istana untuk perusuh, maka Bukhar Hamatin dilepas sudah dan beberapa lama dipenjarakan, maka apakala ia keluar penjara itu iapun berlanah dan diperdalamnya ilmu Thifan, maka apakala ia tengah menghadapi lawan ia selalu berkhimo, maka pekerjaan sehari-hari ia berternak kuda dan memelihara yak. Maka ia bekerja dibantu oleh saudara-saudaranya itu.

Maka adalah saudara-saudaranya itu akhli Thifan. Maka seorang bernama Otman Bukhbur, seorang, seorang bernama Buhkar Huat dan seorang bernama Ali Wohya. Maka sanya kepandaian Otman Bukhbur itu meringankan tubuhnya seringan mungkin dan iapun terkenal pula kelincahannya dalam ilmu Thifan itu, maka tamparannya dapat menghanguskan lawan maka pada masa pertempuran dengan Irhi Ling itu seorang anak perguruan itu ia tampar dan setahun kemudian berdamailah dan diadakan persahabatan dan bertemulah dengan seorang anak perguruan itu yang ia tampar pada lapinya itu tampak cirri bekas tangan yang ronanya merah kehitam-hitaman.

Maka adalah Ali Wohya itu adiknya yang bungsu, kepandaiannya yang termasyhur menyamai Otsman Bukhbur dia mahir dalam ketukan maut pada enam belas tempat akan tubuh manusia itu.

Alkisah pada suatu hari sultan memanggil Bukhar itu beserta saudara-saudaranya dan diperintahkan menangkap seorang perusuh yang terlalu amat kejam semula penjahat pengganas itu seorang pendekar lalu ia mempelajari ilmu syaithan dan gurunya menyuruh berkubur dengan darah perempuan akan tempat penyembahan itu pada sebuah meja pujaan diatas menyalalah dupa toit dan lilin yang beraneka warna. Maka dicurinya gadis-gadis kampung oleh kawanan penjahat itu yang berpakaian serba hitam lalu dibawanya pada sebuah gua ditepi bukit Uglag dekat perbatasan kawasan bangsa Way Timur.
Maka gadis-gadis itu diikat dalam ruang seribu lilin, apakala lepaslah nafsu mereka itu, maka gadis-gadis itu disembelih atau disulanya lalu darahnya tertampung dalam sebuah bejana lalu sebahagian darah itu mereka minum dan sebahagian pula mereka pergunakan untuk penyembahan syaithan itu yang mereka namakan “Tawa Hunga” maka Tawa Hunga diracakan dengan raca emas berwajah seorang tua berjanggut dan bermahkota sepuluh batang jarum.

Maka Bukhar Hamatin pun pergilah beserta Ali Wohya dan dicarinya jejak dan dibantulah mereka oleh lima puluh orang asykar dan seorang bekas kwanan penjahat itu, tatkala itu Tsena seorang gadis anak kepala suku telah dilarikannya pula hanya ada seorang di antara mereka itu tertangkap. Alkisah terciumlah jejak itu dan kedua bersaudara itu sampailah akan sebatang sungai yang beriam merekapun tunggulah sampai jauh malam, pada saat menjelang fajar keluarlah empat orang berpakaian serba hitam itu dari dalam gua yang terdapat dalam riam itu, maka Ali Wohya mensumpit salah seorang diantara mereka itu dan tepatlah akan urat nadi lehernya itu sehingga jatuh terpelungkup dan seorang diantara merekapun meliuklah dan ia menyerang tetapi jatuh pula kena sumpitan itu.

Maka seorang berbaju zirah datang menghampiri maju langkah dan tiadalah damak sumpitan itu luput lalu Bukhar Hamatin pun menjadi bermuka-muka kenallah ia akan wajah itu ia bekas pendekar istana ialah yang memfitnahnya itu karena iri hati akan Bukhar Hamatin itu. Maka terjadilah perkelahian seorang lawan seorang, maka Ali Wohya pun menyanggah seorang pengganas itu pula tetapi tiadalah pengganas itu bertahan lama karena telah kena akan ketukan-ketukan Ali Wohya itu akan layuhlah ia.

Maka adalah Bukhar Hamatin menyanggah pendekar akai pemuja Tawa Hung itu ia berbaju zirah lalu bertopi besi asykar Tatar yang berujung serupa jarum, maka Bukhar Hamatin pun lelahlah dan tubuhnya penuh luka karena si pengganas itu bersepatu pisau, amarahlah Ali Wohya lalu cepat ia arahkan supitannya itu pada bahagian tubuhnya itu yang tiada bertirai tertancaplah damak beracun sumpitan itu dan mulailah ia layuh, maka asykarpun datanglah dan pengganaspun diusunglah dan didalam perjalanan ia mati, maka Bukhar Hamatin, Ali Wohya dan pembesar asykar kerajaan itu masuk gua yang sangat tersembunyi itu ada enam buah pintu kayu dan jalan dalam gua itu berliku-liku, maka apakala sampai bahagian terdalam didapatkannya reca emas Tawa Hunga, tempat penyiksaan dan guci penampung darah, maka ditemukan pula tulang-belulang dan mayat-mayat yang mulai membusuk hairanlah tiada terciumlah kebusukan itu mungkin ada semacam obat penawar bau busuk itu, maka tatkala dibukanya pula sebuah pintu terdapatlah sebuah ruangan berbentuk penjara dan ada sembilan orang gadis didalamnya yang menjelang kematian.

Maka diantara sembilan orang gadis itu adalah Tsena anak kepala suku itu, maka Tsena pun menceriterakan pembunuhan kejam itu diantaranya disula dengan semacam sula bergerigi, disembelih, dibantai, dicencang, dan pelbagai macam penyiksaan yang terlalu amat mengerikan, segala ini karena kepercayaannya kepada syaithan Tawa Hunga itu, mereka melakukannya karena takut kepadanya dan inginkan sihir. Maka alkisah sultanpun melihat muka pengganas itu, iapun termenunglah sanyalah ia seorang pendekar istana lalu diangkat menjadi perdana menteri yang semula dipercayai lalu hilang dari istana itu setahun empat bulan lamanya dan sultan beranggapan ia dibunuh orang dan dipersiapkannya pendekar untuk mencahari jejak tetapi sia-sialah.

Maka Bukhar Hamatin pun dipeluk sultanlah dan baginda meminta ma’af akan kesalahannya karena percaya akan ucapan pengganas itu, lalu turunlah titah baginda agar membawa obat penawar akan luka tubuh Bukhar Hamatin itu dan sepersalin pakaian yang indah, lalu diangkatlah ia panglima seluruh angkatan perang kesultanan itu, maka Otman Bukhbur, Buhkar Hoat dan Ali Wohya diangkatlah menjadi dalam pendekar penghulu asykar kesultanan itu.

Maka gua tempat pemujaan diseluruhnya hancurkan lalu emasnyapun dileburlah, maka aman tentramlah dan rakyatpun merasakan keadilan pemerintahan itu, itulah kabar tentang kesultanan Turki Timur.

Leave a Comment