Hikayat Muytafa

Syahdan adalah seorang anak belia Muytafa namanya ia anak pegunungan ia turun kekota hendak mencahari kajian ilmu, maka semula dikajinya Qur’an pada beberapa orang ahund kemudian seluk beluk hadits dan segala ilmu syara diperolehnya dari ahund diluar sukunya itu, maka hal pembelaan diri ia tidak masuk lanah tetapi berguru pada Mazen Ung dalam kajian Syufu, maka konon apakala Mazen Ung itu berpegang akan suatu benda lalu disalurkannya tenaga panasnya itu maka hanguslah bengus maka pernahlah Muytafa itu menyaksikan gurunya itu memegang sepotong kayu sampai hangus.

Maka Muytafa mengkaji kelengkapan Syufu, maka tatkala dianggap padalah ilmunya itu maka Mazen Ung mengujinya juga disuruhlah ia berhadapan dengan pengganas suku Keyli yang berkuda dan bertopi besi, maka kala berhadapan muka, maka pengganas itu meminta uang kepadanya dan mengancam dengan pedang terhunus, lalu Muytafa menghindar dan mematahkan pedang itu serta dimasukannya tendangan ekor naga sehingga jatuhlah pengganas itu tak sadarkan diri, maka demi dilihat oleh pengganas lain akan kekalah kawannya itu maka larilah pengganas Keyli itu.

Maka Muytafa pernah sepuluh kali mengalahkan pendekar bersihir, maka dikenalkan Mazen Ung lah Muytafa dengan Abdulkader Patet ia seorang guru lanah dan kepandaiannya sangat mengagumkan ia pernah mengalahkan perusuh-perusuh dengan tangan kosong.

Maka pada suatu hari timbullah kekeruhan dalam negeri itu saudara sepupu Abdelkader Patet yang menjadi khan di daerah itu hendak dibunuh orang ketika ia tengah shalat di masjid yang berdinding tanah liat itu maka apakala ia tengah berbaca-baca maka khan pingsan tersungkur dipukul dengan toya besi, maka Abdelkader Patet bersama Mazen Ung segera mengajak Muytafa hendak memadamkan kerusuhan itu maka dipersiapkannya kereta kuda dan Muytafa pun menjadi saislah terlalu amat cepatlah kereta itu karena berkuda sepuluh ekor, maka apakala sampailah sebuah gedung dan bersiap dengan anak panah maka sebuah meriampun ada pula dan tunam meriam itu siap dibakar, maka Muytafa berlindung apakala mulut meriam itu mengarah kepadanya, maka melompatlah Mazen Ung dan Abdelkader Patet dari atas kereta itu maka tunam meriampun dibakarlah lalu meriampun meletup memuntahkan pelurunya sehingga kereta itupun hancurlah dan seekor dua kudanya mati. Maka asykar kerajaan bersiap menghadapi kaum perusuh itu dan penghulu asykar segera menyambut kedatangan Abdulkader Patet dan Mazen Ung itu dengan segala lapang hati karena nasib negeri itu berharap tertolonglah.

Lalu Mazen Ung segera mengopakkan semua asykar kerajaan itu untuk menghadapi kaum perusuh itu, maka timbullah perang dahsyat, maka Mazen Ung menghadapi Cufient kepala perusuh itu bermain pedang maka pedang Cufient pun terpelanting karena Mazen Ung mempergunakan rahapan merak, maka Mazen Ung pun mengayunkan pedangnya membanting keatas sehingga tertebaslah kepala Cufient itu dan jatuh, bersoraklah asykar kerajaan itu, lalu undurlah kaum apak perusuh itu karena menyaksikan kepala penghulunya itupun telah jatuh terpelanting maka segera kaum perusuh itu berkuda kedaerah Paghant di pegunungan lalu tampillah Ishin istri muda Cufient mempenghului kaum perusuh itu, maka merekapun mengumpulkan segala kekuatan untuk merebut negeri dan selalu menimbulkan segala kerusuhan dalam negeri itu lalu berapat musyawarahlah dalam diwan khanat yang dipimpin raja, Abdulkader Patet dan Mazen Ung lalu Muytafa pun ikut pula dalam musyawarat untuk melumpuhkan kaum perusuh itu.

Alkisah Abdulkader Patet dan Muytafa mempenghului seratus dua puluh orang asykar kerajaan menjara tempat perusuh itu, adalah asykar kerajaan itu banyak terdiri atas orang Fatan yang gagah berani, apakala hendak sampailah ketempat itu berdentumlah meriam, timbullah perang selama lima hari.

Maka pada hari kelima tewaslah sepuluh orang asykar kerajaan tetapi asykar kerajaan yang berpetua Muytafa dapat merebut bukit Siutant sebuah bukit tertinggi di Paghant itu lalu dilintasinya parit meriam perusuh dapat direbut dan ada kira seratus orang perusuh itu tewas, maka Isyin istri muda Cufient itu naik atas benteng kubu pertahanan itu, lalu ia memanahi asykar kerajaan sehingga banyak asykar kerajaan itu tewas, maka turunlah Abdulkader Patet berpacu kuda ia berperisai dan berbaju zirah maka dihancurkan benteng yang terdiri atas tanah liat itu dengan pisau tangannya, maka Isyin lari berkuda seorang asykar kerajaan mengejarnya tetapi segera terbunuh, maka empat orang asykar kerajaan setak berkurung gerak akan Isyin itu lalu timbullah perkelahian Isyin menyanggah empat orang asykar itu dengan permainan pedang, keempat asykar telah luka-luka tetapi akhirnya pedang Isyin pun jatuhlah sehingga ia tertangkap juga, maka dibawalah ke ibu negeri dan dipersaksikan khalayak ramai.

Maka dihadapkanlah ia akan hakim kerajaan lalu Isyin pun dipenjarakan karena ia luka-luka maka adalah sepuluh hari kemudian sembuhlah luka-lukanya itu, maka diwan qadlipun memutuskan hukuman mati kepadanya, Isyin tidak meminta ampun bahkan ia terus mencaci maki raja.

Maka pada hari Jum’at apakala orang selesai berjum’at itu maka hukuman itu dilaksanakannya, Isyin berjalan dengan merundukan muka tangannya terikat lalu ia disuruh berlutut maka pelebayapun telah sedialah, tatkala pembacaan duapun selesai maka pedang pelebayapun menari dilehernya itu, maka mayatnyapun diusung oranglah keliling negeri itu agar khalayak ramai dapat menyaksikannya.
Maka selesailah sudah dan amanlan negeri itu lalu Muytafa pun ditetapkanlah sebagai penghulu asykar kerajaan itu.
Maka diadakanlah syukuran di istana itu dan rakyatpun bersuka ria.

Leave a Comment