Rokok dan Beladiri

“Berhenti merokok membuat saya lebih segar dan kuat,” ungkap A.Ahmad seorang tamid Thifan. Kebiasaan merokok beberapa tahun lalu menyebabkan dirinya merasa kurang sehat. Badan mudah lemah, nafas sering sesak dan jantung sering berdebar-debar. Kondisi tersebut akan sangat terasa bila sedang berlari, berjurus ataupun ketika sedang bertanding.

”Alhamdulillah mas, saya sudah bisa menghilangkan kebiasaan merokok,’ ujar mas A.Ahmad sambil tersenyum manis. ” Awalnya saya dulu ikut-ikutan saja waktu awal merokok, karena nggak enak dengan teman, eh ternyata keterusan deh,” lanjutnya.

Diutarakan oleh A.Ahmad, bahwa tidak mudah meninggal kebiasaan merokok, apalagi lingkungan disekitarnya adalah para perokok berat. Padahal para perokok tersebut sudah mengetahui bahaya merokok, misalnya pegawai kesehatan, guru dan ada juga yang olahragawan. Teman A.Ahmad yang aktif di beladiri lain, pernah menceritakan pengalaman memalukan akibat rokok. Berawal dari penunjukan dirinya sebagai salah satu perwakilan dalam pertandingan antar perguruan beladiri. Dalam babak pertama, dia mampu memukau penonton karena melakukan serangan yang spektakuler, lawan dibuat kalang kabut hingga keluar dari arena. Para penonton yakin bahwa dia akan menang, tetapi kejadian selanjutnya sangat jauh dari harapan, karena dia sudah tidak mampu melanjutkan ke babak kedua karena paru-paru terasa akan pecah dan dia harus mendapatkan perawatan medis.

Dukungan Nyata
Pengalaman lain dialami seorang pelatih beladiri, sebuat saja namanya Yanyan. Dalam sesi latihan, dia memimpin sekitar 50 muridnya untuk lari keliling kota dengan jarak sekitar 10 km. Dalam km pertama, Yanyan masih terlihat gagah. Tetapi kejadian selanjutnya sunggu sangat memalukan karena dalam km selanjutnya dia harus dinaikan kendaraan karena paru-paru terasa panas dan seperti akan pecah.

” Untuk meninggalkan rokok, hanya tekad yang dibutuhkan,” lanjut A. Ahmad. Dorongan motivasinya bisa berbeda-beda. Dari masalah agama, ekonomi dan kesehatan. ”Yang penting ada kemampuan untuk berhenti, insya Allah akan ada pertologan dari Allah untuk tetap istiqomah,” imbuh A Ahmad. Ternyata resep sederhananya ini diikuti oleh dua orang temannya di atas. Mereka juga sudah bertekad membuang jauh rokok dari kehidupannya. Alhamdulillah

Lebel tulisan di setiap bungkus rokok dan juga dalam iklan rokok, bahwa rokok membahayakan kesehatan ternyata tidak mempan. Masyarakat sudah terbiasa tidak mengindahkan ’warning’ tersebut. Kita lihat saya laporan dari WHO tahun 1983. Jumlah perokok di negara berkembang meningkat 2,1 persen per tahun, sedangkan di negara maju angka ini menurun sekitar 1,1 persen pertahun.
Perbedaan angka di atas erat hubungannya dengan tingkat pendidikan. Hal ini didukung dengan studi Prof Boedi Darmojo tahun 1973, bahwa persentase terbesar perokok adalah tukang becak,96,1 persen, dilanjutkan dengan paramedis 79,8, pegawai negeri 51,9 persen dan terakhir dokter 36.8 persen.

Alhamdulillah, olahragawan khususnya beladiri tidak menjadi penyumpang besar dalam presentase perokok. Hal ini menunjukan bahwa sebagian besar olahragawan memahami bahaya merokok dan menyadari untuk tidak merokok. Kondisi ini bisa menjadi modal besar bagi kalangan olahragawan untuk berperan aktif mensosialisasikan kampanye Anti Rokok.

Para atlet yang berprestasi dapat dijadikan ikon atau success strory karena tidak merokok. Selain itu peran aktif pemerintah maupun swasta untuk tidak menggunakan perusahaan rokok sebagai sponsor dalam setiap kegiatan olah raga. Suri teladan untuk tidak mau memakai rokok sebagai sponsor evet olahraga dicontohkan oleh Bpk Edy Naraplaya, President PERSILAT. Beliau mengatakan tidak mau menggunakan rokok sebagai sponsor dalam setiap event silat.

Jika seluruh cabang olah raga tidak tergiur dengan sponsor rokok, maka akan menjadi media pendidikan yang efektif untuk mensosialisakan gerakan Anti Rokok. Mungkin akan terasa aneh bila ada event olah raga yang mendapat sponsor penuh dari perusahaan rokok. Masyarakat awan akan mudah mengatakan, rokok tidak membahayakan kesehatan, buktinya pertandingan olah raga juga mendukung perusahaan rokok. ???

Bahaya rokok

Data dari Pusat Racun Negara, USM Oficial Website, bahwa batang rokok yang dinyalakan akan mengeluarkan lebih 4 000 bahan kimia beracun yang membahayakan dan dapat menyebabkan kematian. Di antara kandungan asap rokok termasuk bahan radioaktif (polonium-201) dan bahan-bahan yang digunakan di dalam cat (acetone), pencuci lantai (ammonia), ubat gegat (naphthalene), racun serangga (DDT), racun anai-anai (arsenic), gas beracun (hydrogen cyanide) yang digunakan di “kamar gas maut” bagi narapidana yang menjalani hukuman mati, dan banyak lagi. Racun paling penting berbahaya adalah Tar, Nikotin dan Karbon Monoksida.

Tar mengandungi sekurang-kurangnya 43 bahan kimia yang diketahui menjadi penyebab kanser (karsinogen).

Nikotin, seperti heroin, amfetamin dan kokain, berefek buruk otak dan pada system mesolimbik yang menjadi pusat utama penagihan. Nikotin juga turut menjadi penyebab utama risiko serangan penyakit jantung dan strok..

Karbon Monoksida pula adalah gas beracun yang biasanya dikeluarkan oleh kendaraan bermotor.

Hans Tandra, Dokter Spesialis Penyakit Dalam, dalam artikelnya di Kompas menulis beberapa penyakit yang disebabkan oleh rokok, diantaranya adalah paru-paru, kanker paru-paru, jantung, jantung koroner, perusakan pembuluh darah otak dan perifer, stroke, memperbesar timbulnya AIDS. (anr)

Leave a Comment