Tawe dalam Turgul

Setelah mengulas tentang tawe dan proses terbentuknya, pada tulisan ini penulis mencoba mengulas korelasi tawe dengan turgul. Apakah semakin bertambah banyak tawe yang dimiliki akan berdampak positif terhadap kemampuan turgul? Pertanyaan ini cukup sering ditanyakan oleh tamid karena mereka merasa sulitnya mengaplikasikan tawe dalam turgul. Sehingga yang terjadi kemampuan turgul tamid dari tingkat ke tingkat berikutnya tidak mengalami kenaikan kualitas secara significant. Bahkan boleh dikatakan cukup stagnant karena tidak munculnya variasi teknik turgul yang berasal dari aplikasi tawe.

Kondisi di atas terkadang menimbulkan beban tersendiri bagi sebagian tamid. Untuk apa saya naik tingkat? Toh hanya akan menambah beban hapalan tawe yang harus dipelajari, manfaat yang didapat tidak sebanding dengan pengorbanan yang dilakukan. Karena untuk naik ke jenjang berikutnya memerlukan perjuangan cukup berat baik secara fisik, mental dan materi tentunya. Akhirnya muncul kekhawatiran bahwa tingkat yang berbeda hanya membedakan jumlah koleksi tawe yang berbeda.

Setujukah kita dengan pernyataan bahwa perbedaan tingkat hanya membedakan jumlah materi/ tawe yang dikoleksi ? Pada uraian di bawah ini penulis mencoba membahas sesuai dengan kemampuan penulis (tamid) yang masih sangat terbatas, berdasarkan bukti tertulis, pengamatan maupun bukti empiris (berdasar pengalaman).

Pertama. Berdasarkan bukti tertulis
Kitab Zhodam memaparkan contoh nyata kemampuan para generasi awal yang mampu mengaplikasi tawe dalam turgul sehingga mampu mengalahkan lawan yang sangat tangguh dengan cara yang sangat efektif. Kemampuan ini terasah dari latihan yang terstruktur yang bersumber pada kitab Thifan Po Khan yang telah membagi tingkatan secara proposional. Tiap tingkatan berisi tawe dan materi lainnya yang disususun secara sistematis sehingga akan menghasilkan kenaikan kualitas. Hal ini tentu harus dikaitkan dengan target yang sudah ditentukan dalam setiap tingkatannya. Misalnya pada tingkatan dua, pelewat harus secepat kilat menyambar, tingkatan lain disebutkan serangan harus lebih cepat dari serangan lawan dan seterusnya.

Kedua, berdasarkan pengamatan
Penulis mengamati, tiap tawe yang diajarkan pada tiap kenaikan tingkat mengandung peningkatan kualitas dan kuantitas teknik yang diajarkan. Semakin banyak variasi teknik yang dapat digunakan untuk turgul, baik dalam bentuk serangan, tangkisan, hindaran dan lain-lain. Dari segi kualitaspun semakin bertambah karena terdapat bentuk-bentuk teknik yang semakin efisien untuk berturgul. Berdasarkan pengamatan banyak tamid yang tidak berkembang dalam aplikasi tawe turgul disebabkan karena tawe baru sekedar dihapal. Hapalan yang dimilikipun belum masuk ke dalam memori otak terdalam, sehingga ketika berturgul rangkaian tawe tersebut terlupakan. Tawe semestinya masuk dalam memori otak terdalam sehingga keluar menjadi bagian dari gerak reflek. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah dalam berturgul tamid langsung melakukan gerakan keras sehingga takut mencoba tawe atau gerakan yang baru. Khawatir akan terkena serangan lawan atau khawatir serangan tidak optimal karena masih dalam tahap mencoba. Perlu kiranya dalam berlatih turgul tidak langsung menggunakan gerakan keras, tetapi bertahap untuk mencoba mengaplikasikan tawe.

Ketiga, berdasar pengalaman
Mencoba tawe dalam turgul bayangan, mencoba dan mematangkan gerak sehingga menjadikan gerak tawe lebih bermakna. Lebih dari hanya sekedar rangkaian gerak tarian, tetapi berupa rangkaian teknik yang handal. Untuk mendapatkan hasil yang optimal tentu mesti memperhatikan dan mempraktekkan semua arahan yang pembimbing sampaikan. Dijalankan dengan sabar, disiplin, istiqomah dan istimrar. (bro)

Leave a Comment