Turgul

Belajar beladiri tanpa pernah menggunakan untuk latih tanding bagaikan sayur tanpa garam, karena beladiri termasuk Thifan Po Khan bukan hanya sekedar science atau knowledge, tetapi juga mengandung unsur skill yang harus dilatih hingga tahap mahir, dan skill ini akan semakin tajam apabila sering dipergunakan untuk pertandingan yang sebenarnya yaitu di lapangan, misalnya menghadapi penjahat seperti pengalaman salah seorang tamid yang di tulis pada artikel “Tengah Malam di Terminal Pulo Gadung” edisi Juni 2008.

Dalam istilah Thifan Po Khan, latih tanding biasa disebut turgul, dalam dunia silat biasa disebut “sabung” atau dalam beladiri lain ada yang menyebut komite. Turgul merupakan salah satu bagian yang tak terpisahkan dari materi pelatihan Thifan, selain belajar sentay (senam) dan tawe (jurus), dalam setiap latihan juga diwajibkan adanya turgul, biasanya turgul ini ditempatkan pada sesi terakhir, demikian juga ketika ujian kenaikan tingkat setelah ujian fisik, sentay, kelincahan (kenla), tawe dan kekuatan, maka ujian terakhirnya adalah turgul. Bagi sebagian tamid sesi turgul merupakan sesi yang kurang diminati, mungkin sama halnya murid sekolah tidak menyukai pelajaran matematika. Karena kadang-kadang dalam turgul terjadi cidera, minimal adalah memar atau ngilu karena terjadi benturan fisik karena menangkis, memukul ataupun menendang. Tetapi bagi sebagian tamid yang lain, turgul adalah bagian yang sangat menyenangkan, karena disitulah dipraktekkan semua teori yang berasal dari tawe (jurus), tusyuq (langkah) maupun strategi-strategi lainnya. Bahkan akan lebih baik dibiasakan dalam periode tertentu misalnya sebulan atau dua bulan sekali setelah melakukan sentay maka latihan dilanjutkan dengan turgul penuh, bisa jadi setiap tamid akan melakukan turgul sebanyak 3 sampai dengan 5 kali dalam latihan tersebut.

Disebutkan dalam kitab Thifan, turgul dilakukan tanpa menggunakan pelindung, tetapi ada beberapa daerah rawan yang tidak boleh diserang, misalnya kemaluan dan kepala. Tujuan dari tidak menggunakan pelindung ini adalah agar badan tidak mudah sakit ketika terkena pukulan yang sesunggunya, sehingga dalam turgul tidak masalah apabila badan sesekali terkena pukulan atau tendangan dari tamid yang lain. Beberapa hal yang musti diperhatikan ketika turgul adalah sebagai berikut :

a. Kesiapan fisik dan mental
Dalam turgul sering seorang tamid kesulitan dalam mengatur nafas, dalam beberapa menit tamid sudah mengalami kesulitan dalam bernafas. Mungkin hal ini disebutkan oleh kondisi fisik yang kurang fit atau karena kesalahan dalam pengaturan nafas. Beberapa kali penulis perhatikan ketika turgul memasuki ronde satu, serangan dan gerakan sangat cepat dan tangkas, tetapi kondisi ini akan langsung drop ketika memasuki ronde kedua dan seterusnya bahkan pernah terlihat dalam ujia kenaikan tingkat tamid sudah tidak mampu menyerang ketika masuk pada ronde ke lima.

Ketidakpercayaan diri pada kemampuan sendiri atau trauma terkena pukulan sering menghantui tamid ketika turgul, sehingga gerakan tidak dapat optimal karena tidak mampu berkonsentrasi dengan penuh. Langkah awal yang perlu diperhatikan bahwa yakinlah kita mampu melakukannya. Dalam bahasa motivasi sering disebut dengan melepaskan rantai gajah yang membelenggu. Artinya melepaskan beban mental yang sering menghalangi gerak dan langkah. Anggap bahwa yang berada di depan kita mempunyai kemampuan yang sama sehingga tidak perlu mengalami ketidakpercayaan diri. Langkah berikutnya adalah mengatur nafas dengan baik, sehingga darah dapat mengalir dengan baik ke otak dan detak jantung akan berdetak kembali normal.

b. Sathay zhi
Kemampuan memperhatikan sathay zhi adalah sesuatu yang sangat mutlak, karena hal ini sangat menentukan kapan seseorang akan melakukan serangan. Walau pun jenis sathay zhi bervarisi tergantung turgul jenis apa yang akan dilakukan. Di dalam Thifan sendiri dikenal 3 (tiga) jenis turgul yaitu yang pertama turgul rapatan, dalam turgul ini sathay zhi tentu sangat dekat, dan gerakan jurus jarak dekat sangat efektif, misalnya patahan, bantingan, dan lain-lain. Yang kedua adalah turgul renggang, dalam turgul ini termasuk yang menggunakan sathay zhi standar, dimana serangan pukulan dan tendangan dilakukan pada posisi yang wajar. Ketiga, turgul jangkauan, serangan pada turgul ini sudah sangat fariatif karena menggunakan banyak loncatan, terkeman untuk mencapai posisi lawan.

c. Strategi
Turgul bukan hanya gerakan fisik semata, tetapi perpaduan antara kecerdasan dan kekuatan fisik. Tanpa strategi maka turgul seperti gerakan kerbau yang mengamuk, tetapi apabila menggunakan strategi maka turgul akan terlihat indah dan efektif. Strategi ini bisa muncul dari beberapa jenis jurus yang dirangkai, ataupun dengan menggunakan tusyuq (langkah) yang sudah dilatih dengan efektif, dan bahkan untuk tingkat lanjut dapat menggunakan khimo atau senzho. Kajian secara khusus dan mendalam strategi ini akan diajarkan dalam lanah sesuai tingkatan masing-masing. Bahkan pada tingkatan tertentu, turgul ini dilakukan ditempat-tempat yang sulit misalnya di tebing, di tempat yang licin, mata tertutup dan sebagainya.

Perbedaan postur tubuh tamid maupun perbedaan postur tubuh lawan tanding akan menyebabkan perbedaan style maupun strategi dalam turgul. Misalnya seorang tamid yang kurus menghadapi tamid yang gemuk maka tidak mungkin tamid yang kurus akan melakukan gerakan rapatan, karena akan sangat mungkin tamid tersebut dibanting atau dikunci dengan mudah. Demikian juga dengan tamid yang pendek ketika menghadapi tamid yang tinggi maka harus lebih agresif masuk dalam daerah pertahanan lawan, atau dapat juga menggunakan gerakan loncatan untuk dapat mencapai sasaran yang dituju.

Turgul dengan beladiri lain

Sebagai penambah wawasan dan pengalaman dalam turgul, tidak ada salahnya tamid mencoba untuk turgul dengan teman dari perguruan lain. Niat turgul tentu saja dalam rangka meningkatkan silahturahmi dan bukan untuk mencari siapa yang kalah dan menang, apalagi mencari bibit permusuhan. Pengalaman penulis selama ini sering mencoba beberapa perguruan yang berbeda untuk mengasah kemampuan dan adaptasi dalam mengantisipati serangan lawan yang tidak terduga. Ketika tamid turgul dengan sesama tamid maka kemungkinan yang terjadi akan mudah menebak arah serangannya, karena sudah terbiasa dengan melihat teknik turgul lawan, apalagi jurus dan teknik yang dipelajari adalah sama. Ketika turgul dengan perguruan lain, sangat mungkin sekali kita tidak mengetahui arah serangan lawan, sehingga akan meningkatkan kewaspadaan dan kecerdasan dalam melakukan pertahanan maupun serangan. Dan kemampuan turgul ini akan semakin teruji ketika tamid berani melakukan uji nyali dengan turgul melawan penjahat di tempat umum, seperti yang dilakukan oleh salah seorang tamid dalam artikel di atas. Tetapi pesan penulis, untuk berlatih turgul dengan penjahat di tempat umum memerlukan kesiapan fisik, mental dan strategi yang sudah cukup teruji. (hb)

Leave a Comment