Mewujudkan Remaja Masjid Nge”fight”

Sebuah tulisan yang ditulis dari kegelisahan dan keprihatinan akan
kondisi jasadiyah pengemban dakwah. Termasuk gagasan beladiri untuk akhwat.

Ali bin Abu Thalib r.a. hendak menebaskan mata pedangnya ke musuhnya ketika memenangkan pertempuran dalam suatu peperangan. Tiba-tiba musuhnya meludahi dia, beberapa saat Ali tertegun kemudian dia menyarangkan pedangnya ke sarungnya. Pergi meninggalkan musuhnya yang hampir aja mati di tangannya. Musuhnyapun heran dan bertanya; “Mengapa Anda tidak membunuh Saya?” Pahlawan perang Islam itupun menjawab; “Saya tidak ingin niat ikhlas dalam berperang dikotori oleh nafsu.” Musuhnya kagum dan mengucapkan kalimat syahadat.

Beberapa abad kemudian, tepatnya pada tahun 583 H/1187 M, tentara Salibis di bawah pimpinan raja-raja besar Eropa di bawah pimpinan Richard, The Lion Heart mengalami kekalahan melawan Islam di bawah pimpinan Shalahuddin Al Ayubi. Tentara Salibis porak-poranda, sedang tentara Islam makin kuat. Karena itu Richard jatuh sakit dan minta damai. Diam-diam Shalahuddin datang ke kemah Richard menyamar sebagai seorang dokter Arab, mengobati sehingga sembuh. Sesudah sembuh perang pun dimulai kembali. Tetapi mendengar aba-aba suara Shalahuddin, Richard tertegun. Di saat itulah Richard mengenali Shalahuddin sebagai si dokter Arab yang menyembuhkan penyakitnya. Menghadapi kenyataan ini Richard mengakui dari lubuk hatinya yang paling dalam kebaikan dan keberanian luar biasa dari musuhnya. Maka keduanya mengadakan perdamaian tahun 588 H/1192 M. Setelah Shalahuddin wafat, Richard yang sangat kagum terhadap Shalahuddin, mengawinkan saudara perempuannya dengan saudara Shalahuddin, Malik al-Adil. Perkawinan yang diharapkan sebagai hari terakhir permusuhan Kristen dan Islam. Sayang rencana ini tidak didukung Paus, Richard dikutuk dan dikucilkan, perang Salib pun tetap dilanjutkan.

Ada hal yang menarik dari dua kisah di atas, yang merupakan sebagian kecil kisah-kisah hebat dalam sejarah Islam, yaitu sifat keberanian dan kelembutan dalam medan peperangan. Sifat ini tumbuh dari kemampuan jasadiyah dua pahlawan Islam yang mempunyai kemampuan beladiri hebat. Ali sangat jarang kalah dalam pertempuran, maka seringkali dia ditunjuk Rasulullah untuk menghadapi panglima musuh. Begitu pula Shalahuddin, berangkat dari panglima perang, dia berhasil merebut Yerusalem dari tangan Kristen, akhirnya dia menjadi pendiri dinasti Ayyubiyah di Mesir. Masih banyak Ali dan Shalahuddin yang mempunyai kemampuan jasadiyah, yakni beladiri dan menjadi pahlawan Islam, seperti Ibnu Taimiyah, Izzuddin Al-Qassam, Pangeran Diponegoro dan lain sebagainya. Pahlawan Islam ini pun ada yang berasal dari kalangan hawa, seperti bibi Rasulullah, Shafiyyah binti Abu Muthalib. Sungguh takmungkin Shafiyyah dapat membunuh musuh Islam tanpa kemampuan beladiri. Para pahlawan Islam ini mempelajari beladiri sewaktu belajar Islam, sehingga terbentuk pribadi yang alim, cerdas dan nge-FIGHT.

Sayang, kemampuan beladiri ditinggalkan para aktivis dakwah Islam pada saat ini. Mereka lebih mementingkan dimensi maknawiyah/spiritual dan fikriyah/intelektual. Padahal dalam hadist disebutkan, ”Muslim yang kuat lebih dicintai Allah daripada Muslim yang lemah.” 3 tahun yang lalu penulis menjumpai gambar kartun yang menarik, yaitu gambar profil remaja masjid yang menggambarkan profil cerdas, alim, nge-FIGHT. Profil cerdas digambarkan kartun orang berpakaian jas yang membawa laptop dan melihat jam tangan; profil alim digambarkan kartun berpakaian gamis, bersarung, berpeci dan membawa kitab; profil nge-FIGHT digambarkan kartun berpakaian seperti militer dan membawa pedang. Profil alim, cerdas dan nge-FIGHT ini dibuat untuk menggambarkan kemampuan yang harus ada pada diri pribadi remaja masjid. Profil ini juga menggambarkan kecerdasan yang harus dimiliki tiap pribadi remaja masjid, seperti Intelectual Intelligent (IQ/cerdas), Spiritual Intelligent (SQ/alim) dan Physicall Intelligent (PQ/nge-FIGHT). Sekali lagi sungguh sayang, karena terjadi sekulerisasi (pemisahan) profil, sehingga kemampuan beladiri (PQ) ditinggalkan. Seringkali ’gasrukan’ terhadap kemaksiatan/kemungkaran hanya mengandalkan banyaknya teman dan asal nekad, gubras-gebrus. Tidak berani jika sendirian, takut kalah dengan centeng-centeng yang badannya besar-besar dan biasanya punya kemampuan beladiri boxing. Belum pernah penulis melihat gasruker menggasak tempat maksiat/kemungkaran sendirian dan mengalahkan centeng-centengnya. Bukankah Rasulullah pernah mengalahkan jagoan gulat sampai tiga kali? Dan tidak ada sahabat yang tidak bisa beladiri, karena kemampuan ini wajib dimiliki. Robohnya Dinasti Abasiyyah yang merupakan puncak keemasan Islam di tangan Mongol, salah satu karena tidak mempunyai kemampuan militer yang kuat.

Source : http://fsrmy.net

Leave a Comment