Tapak Langkah Pecinta Beladiri

Profil akhi AT, tamid PTI

Darah beladiri begitu kental mengalir di seluruh aliran darahnya. Beladiri baginya sudah menjadi bagian dari jalan hidup. Pembicaraan apapun, ujung atau tengahnya selalu membicarakan beladiri. Mata berbinar dan raut muka bergairah begitu tampak saat membicarakan beladiri.

Era 70 – 80 an

Kecintaan kepada beladiri sudah terlihat saat AT masih kecil. Kebiasaan melihat latihan silat di dekat rumahnya semakin menguatkan niatnya untuk ikut berlatih. Sayang, gayung belumlah bersambut, AT kecil ditolak latihan dengan alasan masih terlalu kecil. Untung AT kecil tidak ’mutung’, akhirnya AT menemukan beladiri yang mau menampungnya untuk ’ngansu kaweruh’. Semangat latihan yang luar biasa membuat gurunya jatuh hati, dan dalam perjalanannya AT mendapat kepercayaan untuk menjadi pelatih menggantikan sang guru semakin sibuk dengan tugas kedinasannya.

Posisi sebagai pelatih bukanlah berarti berhenti berlatih, demikian prinsip AT. Bermodal semangat ingin belajar maka AT menimba ilmu di beberapa perguruan yang berbeda. Saking semangatnya, AT dalam waktu bersamaan belajar pada tiga perguruan yang berbeda. Hasilnya, AT mendapat kepercayaan tambahan di perguruan lain untuk menjadi wakil guru.

Dalam budaya ’wetan’, seseorang belumlah dianggap lengkap sebelum mempelajari ilmu kanuragan. AT pun merasakan hal sama. Selain mempelajari ilmu beladiri, AT memperdalam ’ilmu kanuragan’ kepada sang guru. Hasilnya beberapa ilmu kanuragan seperti brajamusti untuk kekuatan, lembu sekilan untuk kekebalan, pengasihan, ilmu pengobatan, ngrogo sukmo, saipi angin, pamacan, pamonyet dan lain-lain dia pelajari dengan tekun. AT pun larut dalam keasyikan dunia ghaib. Puasa ngbleng, nglowong, mutih, semedi di kuburan dan tempat angkerpun dilakoni. Sehingga tak terasa AT sempat dipanggil dukun muda atau orang pintar muda disekitar rumahnya.

Semakin dalam lautan maka semakin banyak misteri di dalamnya, demikian juga dengan masalah ghaib. Semakin dalam belajar ternyata semakin banyak hal-hal aneh yang didapat. Serangan-serangan ghaib sering didapati. Gangguan berupa santet sering mampir ke rumah AT. Kalau dia kuat maka yang terkena adalah anggota keluarga yang terlemah. Bahkan pernah AT harus berjibaku melawan jin yang masuk dalam diri adik kandungnya.

Mulai bimbang

Perasaan bimbang mulai mengusik keasyikannya dalam dunia ghaib. Bermula dari ulah gurunya yang dianggap semakin aneh. Sang guru menjalani pasa ngedan (puasa gila) selama empat bulan.. Hanya bercelana pendek dan telanjang dada sang guru keluyuran dan tidur di jalan-jalan. Tidak memberi nafkah kepada keluarga dan juga tidak melakukan kewajiban yang utama yaitu shalat. Apakah demikian ajaran Islam?

Kegamangan semakin memuncak. Empat bulan setelah melakoni puasa gila, sang guru memanggil semua murid utamanya untuk diajarkan ilmu yang didapat. Pengakuan pertama bahwa dirinya merupakan pimpinan Nabi yang baru, yang kedua mengaku mendapatkan ilmu tertinggi dari penguasa laut Kidul. AT pun ragu dan menyanggah ilmu tersebut. ”Ah ilmu ini tidak bisa dipercaya dan tidak bermanfaat,” komentar lirih AT. Tidak disangka komentarnya didengar sang guru, padahal jarak dengan sang guru sekitar lebih dari 10 m. Merah padam muka sang guru, dengan nada keras ditantanglah AT untuk membuktikan ucapannya tadi. Seorang murid senior lainnya disuruh maju melawan AT. Takut. Itulah perasaan awal AT, tetapi didorong perasaan ingin membuktikan kebenaran AT pun berdoa dalam hati,” Ya Allah tunjukanlah kebenaran, kalau selama ini salah maka hamba akan membuang semua ilmu yang hamba pelajari.”

Sang guru memerintahkan murid yang ditunjuk tadi untuk merapal mantra dan menggunakan jurus yang diajarkan Nyi Roro Kidul. Bermodal bismillah dan beladiri fisik yang dipelajari, AT pun melawan. Subahanallah, Allah memang ingin menunjukan kebenaran. Si murid utama tunjukan guru tidak berani mendekat , selalu menghindar dan lari ketika didekati ataupun diserang Walhasil pertandinganpun hanya berupa kejar-kejaran yang tidak menarik. Guru dan murid yang lain terdiam. Pertandingan diselesaikan dan pertemuanpun dibubarkan.

Allah telah memberikan petunjuknya, itulah yang diyakini AT. Ilmu jin tidak berani tidak berdaya melawan keimanan. Sepulang dari pertemuan, AT dan beberapa murid yang lain pun bertekad untuk keluar dari perguruan. Para kyai dan ustadzpun dihampiri untuk ditimba ilmunya. Jalan kebenaran semakin terang di depan matanya.

Era 90-an

Bekerja dan kuliah, sebuah harapan dan semangat yang AT rekam dalam hati. Dialirkan dalam setiap langkah kaki dan lambaian tangannya. Bermodal ijasah SLTA, berangkatlah AT ke magnet Indonesia, Jakarta. Sulit dan kerasnya hidup serta asa untuk masa depan yang lebih baik, tidak menjadikan AT melupakan beladiri yang sudah menjadi bagian dari hidupnya. Ilmu beladiri yang telah dipelajaripun terus diasah, hanya ilmu kanuragan yang sudah ditinggalkan. Para ustadznya mengajarkan bahwa ilmu-ilmu seperti lebih banyak menimbulkan mudharat daripada maslahat, di dunia apalagi di akherat.

Sambil bekerja di bilangan daerah Jakarta Selatan, AT pun berusaha mencari perguruan beladiri yang sesuai dengan kaedah dan prinsip yang diyakini, yaitu beladiri bersih dari unsur-unsur yang tidak sesuai dengan aqidah keimanan Allah. Pucuk dicinta ulampun tiba, AT diajak seorang teman melihat latihan beladiri yang baru naik daun karena digemari para pegiat dakwah. Takjub, itulah kesan pertama yang dirasakan AT. Karena begitu asing dan hebat semua gerakan beladiri tersebut, mulai dari senam sampai jurusnya. Belakangan dia baru tahu bahwa beladiri tersebut bernama Thifan Po Khan.

Tanpa menunda waktu, AT pun menghampiri sang pelatih dan menyatakan niatnya untuk membuka tempat latihan baru. Gayung bersambut, sepakatlah dibuka latihan Thifan di kawasan tersebut. Subhanallah, lebih dari seratus orang yang ikut berlatih saat itu.

Tahun 90-an menjadi awal bagi AT mempelajari Thifan. Pasang surut perkembangan Thifan pun diikuti oleh AT. Bermula dari hanya Thifan Po Khan, pindah ke Thifan Tsufuk dan sekarang bergabung dengan Persaudaraan Thifan Po Khan Indonesia (PTI).

Haus ilmu dan kecintaan yang berlebih kepada beladiri membuat AT waktu itu tidak cepat merasa puas. Diam-diam AT pun belajar pada beberapa beladiri lain. Niatnya ingin menimba ilmu dan memperluas pengalaman. Setelah merasa puas dengan pengembaraan di perguruan lain maka AT pun sekarang fokus hanya pada satu perguruan yaitu Thifan Po Khan. Di sini AT semakin memahami, bahwa hakikat Thifan bukan hanya sekedar beladiri, tetapi lebih dari itu yaitu penguatan ruhiah, tsaqofah Islamiya dan amar ma’ruf nahi munkar. (Ditulis oleh hb sesuai penuturan AT)

Leave a Comment