Antara Pekurban dan Penikmat

Kisah
Habil Qabil dan kisah Nabi Ibrahim dengan putranya Nabi Ismail
memberikan pelajaran yang sangat berharga kepada kita tentang hakikat
berkurban. Berkurban bermakna mengorbankan kepentingan pribadi untuk
kepentingan panggilan iman kepada Allah. Memberikan yang terbaik walau
terasa sangat berat untuk dijalani. Kurban kambing seorang penjual kaki
lima tentu lebih bermakna pengorbanan ketimbang kurban kambing dengan
ukuran yang sama oleh orang yang kaya.
Menjadi pekurban atau
bukan, itu adalah pilihan. Pilihan yang mengikuti panggilan jiwa yang
bersumber keimanan. Posisi lain selain pekurban adalah penonton
kegiatan kurban atau penikmat daging kurban. Pilihan posisi atau status
tergantung tingkat kemampuan dan kefahaman terhadap keimanan. Mampu
tetapi tidak faham, akan menjadikan orang puas sebagai penonton kurban,
bahkan tidak jarang ikut berharap menikmati daging kurban. Tak ayal
penerima kurban tidak hanya orang yang miskin tetapi orang mampu tetapi
berjiwa penikmat daging kurban.
Semangat kurban dapat dijadikan
sebagai cermin dalam mempelajari beladiri, termasuk juga dalam
mempelajari Thifan Po Khan. Sebagian orang bertujuan agar memperoleh
badan yang sehat dan kuat, sebagian lain mungkin dengan tujuan agar
menjadi pendekar atau atlit yang hebat, atau dengan tujuan mendapatkan
manfaat finansial darinya.
Tipe penikmat.
Sekedar sebutan bagi sebagian orang yang mempelajari beladiri khususnya
Thifan bila hanya memandang dari sisi manfaat pragmatis yang diperoleh.
Tidak menghiraukan seperti apa perkembangan Thifan, yang penting saya
belajar dan mendapatkan manfaat.
Walau ini tetap sah-sah saja,
karena tidak ada larangan secara langsung untuk memperoleh manfaat dari
Thifan Po Khan. Tetapi tipe seperti ini biasanya tidak akan bertahan
lama, karena tidak mempunyai pijakan yang kuat. Motivasi akan cepat
menurun dan seterusnya akan hilang dimakan waktu.
Tipe pekurban.
Tipe ini semangat dalam mengembangkan Thifan, tetapi tidak bertujuan
mendapatkan manfaat apapun darinya. Tipe pekurban rela mengorbankan
semua potensi yang terbaik untuk perkembangan Thifan. Berbagai kendala
dijadikan sebagai tantangan yang musti diselesaikan. Kelemahan
dijadikan bahan kajian untuk disempurnakan. Memberi dan bukan menuntut.
Tidak menghitung apa yang sudah diberi tetapi mencari apa yang mesti
diberikan lagi.
” Kalau antum bertujuan mendapatkan uang, maka
jangan latihan Thifan!” pesan seorang senior yang selalu terngiang.
Thifan mencari bibit terbaik yang siap mewarisi ilmu Thifan dan
mengembangkan untuk kemaslahatan ummat.
Tipe ketiga adalah tipe pekurban sekaligus penikmat.
Tipe ini juga berkorban memberikan potensi yang terbaik seperti tipe
yang kedua, tetapi selain itu dia juga mendapatkan manfaat dari Thifan.
Badan sehat, kuat, mempunyai kemampuan beladiri yang baik dan lain
sebagainya.
Tipe kedua dan ketiga merupakan tipe yang baik,
tetapi akan lebih baik apabila kita adalah tipe ketiga. Bersemangat
dalam mengembangkan, bersemangat menkaji ilmu dan bersemangat dalam
berlatih Thifan untuk tujuan jangka panjang yang mulia.
Diantara
tiga tipe ini, tipe manakah kita? Jawaban tidak perlu diberikan kepada
para pembimbing atau pengurus. Cukup berupa langkah konkret kita
masing-masing. (ma)
Visitors :33559 Org
Hits : 102586 hits
Month : 1698 Users