Antara Pekurban dan Penikmat

Selasa, 29 Desember 2009 13:52:18 - oleh : redaksi


Kisah Habil Qabil dan kisah Nabi Ibrahim dengan putranya Nabi Ismail memberikan pelajaran yang sangat berharga kepada kita tentang hakikat berkurban. Berkurban bermakna mengorbankan kepentingan pribadi untuk kepentingan panggilan iman kepada Allah. Memberikan yang terbaik walau terasa sangat berat untuk dijalani. Kurban kambing seorang penjual kaki lima tentu lebih bermakna pengorbanan ketimbang kurban kambing dengan ukuran yang sama oleh orang yang kaya.

Menjadi pekurban atau bukan, itu adalah pilihan. Pilihan yang mengikuti panggilan jiwa yang bersumber keimanan. Posisi lain selain pekurban adalah penonton kegiatan kurban atau penikmat daging kurban. Pilihan posisi atau status tergantung tingkat kemampuan dan kefahaman terhadap keimanan. Mampu tetapi tidak faham, akan menjadikan orang puas sebagai penonton kurban, bahkan tidak jarang ikut berharap menikmati daging kurban. Tak ayal penerima kurban tidak hanya orang yang miskin tetapi orang mampu tetapi berjiwa penikmat daging kurban.

Semangat kurban dapat dijadikan sebagai cermin dalam mempelajari beladiri, termasuk juga dalam mempelajari Thifan Po Khan. Sebagian orang bertujuan agar memperoleh badan yang sehat dan kuat, sebagian lain mungkin dengan tujuan agar menjadi pendekar atau atlit yang hebat, atau dengan tujuan mendapatkan manfaat finansial darinya.


Tipe penikmat. Sekedar sebutan bagi sebagian orang yang mempelajari beladiri khususnya Thifan bila hanya memandang dari sisi manfaat pragmatis yang diperoleh. Tidak menghiraukan seperti apa perkembangan Thifan, yang penting saya belajar dan mendapatkan manfaat.

Walau ini tetap sah-sah saja, karena tidak ada larangan secara langsung untuk memperoleh manfaat dari Thifan Po Khan. Tetapi tipe seperti ini biasanya tidak akan bertahan lama, karena tidak mempunyai pijakan yang kuat. Motivasi akan cepat menurun dan seterusnya akan hilang dimakan waktu.

Tipe pekurban. Tipe ini semangat dalam mengembangkan Thifan, tetapi tidak bertujuan mendapatkan manfaat apapun darinya. Tipe pekurban rela mengorbankan semua potensi yang terbaik untuk perkembangan Thifan. Berbagai kendala dijadikan sebagai tantangan yang musti diselesaikan. Kelemahan dijadikan bahan kajian untuk disempurnakan. Memberi dan bukan menuntut. Tidak menghitung apa yang sudah diberi tetapi mencari apa yang mesti diberikan lagi.

” Kalau antum bertujuan mendapatkan uang, maka jangan latihan Thifan!” pesan seorang senior yang selalu terngiang. Thifan mencari bibit terbaik yang siap mewarisi ilmu Thifan dan mengembangkan untuk kemaslahatan ummat.

Tipe ketiga adalah tipe pekurban sekaligus penikmat. Tipe ini juga berkorban memberikan potensi yang terbaik seperti tipe yang kedua, tetapi selain itu dia juga mendapatkan manfaat dari Thifan. Badan sehat, kuat, mempunyai kemampuan beladiri yang baik dan lain sebagainya.

Tipe kedua dan ketiga merupakan tipe yang baik, tetapi akan lebih baik apabila kita adalah tipe ketiga. Bersemangat dalam mengembangkan, bersemangat menkaji ilmu dan bersemangat dalam berlatih Thifan untuk tujuan jangka panjang yang mulia.

Diantara tiga tipe ini, tipe manakah kita? Jawaban tidak perlu diberikan kepada para pembimbing atau pengurus. Cukup berupa langkah konkret kita masing-masing. (ma)

kirim ke teman | versi cetak

Berita "Umum" Lainnya