Kopi Hitam Panas

Senin, 11 Januari 2010 15:57:24 - oleh : redaksi


Cerita ini sebenarnya kisah nyata yang ditulis ulang, semoga sedikit menghibur.

Waktu baru menunjukan pukul 21.00 wib. Tetapi kondisi malam itu sangat gelap. Mendung tebal menutupi bulan dan bintang yang seharusnya menerangi malam. Bergegas saya mohon diri dari tuan rumah yang sudah mengadakan acara tasyakuran. " Sorry nih beh, ane pamit dulu ya, ujan dah mau tumpah nih, takut keujanan di jalan." pamit saya. " Yah dah sono, ati-ati dan makasih ya dah mau dateng, salam buat babe loe." sahut Mang Udin tuan rumah.

Baru sepuluh menit perjalan, hujanpun turun dengan derasnya, padahal jarak ke rumah masih sangat jauh. Terpaksa motor Yamaha Alfa saya belokan ke sebuah warung untuk neduh. Menyesal tadi tidak membawa jas hutan.

Warung sepi, hanya ada mamang pemilik warung dan anaknya yang masih kecil." Permisi mang, numpang neduh ?" sapa saya. " Silakan nak, masuk aja tapi motornya dijaga ya, maklum kampung sini kurang aman, banyak maling dan preman." jawabnya. Deg, aduh mak. Mana motor masih baru banget lagi, batin saya.


Belum habis rasa waswas , tiba-tiba masuklah sekitar tiga orang dengan tampang seram ke warung kopi. Terlihat tato ada di lengan mereka. Pandangan mereka sangat tidak bersahabat. Perasaan saya semakin ciut saja, maklum saya termasuk bukan tipe pemberani alias boleh dibilang sedikit penakut. Walau badan cukup bongsor, tetapi kemampuan beladiri sangat minim.

Mata ketiga orang tadi terus mengawasi saya. Wah bisa gawat nih, batin saya. Mesti ada akal bagaimana caranya membela diri. Tiba-tiba terbersit ide agak nekad. " Mang bikinin kopi hitam panas ya, gak usah pakai gula dan gak pakai sendok !" minta saya ke penjaga warung." Gak pake sendok? tanya tukang warung keheranan. " Iya sahut saya mantap." Ketiga orang yang dari mengamati saya pun terlihat agak bingung." Nih nak kopinya," penjaga warung menyodorkan kopi.

Aroma kopi panas membuat ide nekad saya semakin bulat. Dengan tampang yang saya buat setenang mungkin, kaki diangkat satu di atas kursi seperti layaknya jagoan kampung, Mulailah jari saya mengaduk kopi hitam yang masih sangat panas tersebut. Rasa panas banget, ingin rasanya langsung mencabut jari saya dari kopi panas itu. Kalau bukan karena takut motor melayang di palak preman maka tentu sudah dari tadi teriak kesakitan. Tabahkan hatimu nak, itu pesen dari dalam hati saya.

"Wah, hebat nak, pernah berguru dimana?" ucap penjaga warung kagum." Ah biasa aja mang, baru sebagian ilmu aja," sahut pura-pura tenang. Penjaga warung menduka saya punya ilmu kebal atau ilmu tahan panas yang hebat. Padahal sih tangan ancur banget hehe.

Sambil menahan sakit, tak lupa saya lirik ketiga orang tadi, ternyata mereka saling berbisi. Untungnya tak beberapa lama, ketiga orang preman tadipun keluar dari warung.

Alhamdulillah aman. Aksi nekad saya tadi ternyata tidak terlalu sia-sia. Walau tangan melepuh hebat, tetapi yang penting motor dan dompet aman. (cah)

kirim ke teman | versi cetak

Berita "Beladiri" Lainnya