Tawe

Tawe (jurus) merupakan istilah umum dalam beladiri. Arti bebas dari jurus adalah
rangkaian gerak yang bermuatan teknik untuk beladiri ataupun
pertarungan. Tiap beladiri hampir bisa dipastikan mempunyai jurus yang
berbeda. Walaupun terkadang nama jurus sama, tetapi gerakannya bisa
jauh berbeda. Misalnya jurus harimau dalam Thifan Po Khan, ternyata
sangat beda dengan jurus harimau dalam beladiri lain.
Dari
manakan jurus itu berasal ? Apakah jurus dibuat hanya berdasarkan
bayangan akan gerakan tertentu, ataukan berdasarkan pengalaman lapangan
? Tiap beladiri mungkin akan memberikan jawaban yang berbeda. Dalam
kitab Thifan Po Khan disebutkan, bahwa jurus berasal dari pengamatan
akan gerak tertentu yang kemudian dikaji secara khusus. Hasil kajian
kemudian diaplikasikan dalam pertarungan. Hasil dari pertarungan akan
dievaluasi kembali serta disempurnakan sehingga menjadi jurus yang
baku. Misalnya jurus Petik Anggrek di Pohon Tie, jurus ini merupakan
pengamatan dari pendekar Namsuit ketika memperhatikan teknik memetik
anggrek, gerak ini kemudian dikaji, dipraktekkan kemudian dijadikan
jurus baku. Berdasar uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa jurus
adalah rangkaian gerak yang sangat bermanfaat untuk pertarungan, baik
sebagai teknik penyerangan, hindaran maupun pertahanan.
Jurus; banyak atau sedikit
Tiap
beladiri memiliki jurus yang berbeda, baik jumlah maupun geraknya. Ada
beladiri yang memiliki 7 jurus, 12 jurus, 40 jurus dan bahkan tidak
sedikit yang memiki ratusan jurus. Mengapa jurus bisa sedikit atau
banyak? Jawaban pertanyaan ini sangat relatif, karena tiap beladiri
mempunyai alasan tersendiri. Tetapi penulis mempunyai pandangan yang
berdasarkan pengamatan bahwa banyaknya jurus ditentukan oleh beberapa
hal.
Pertama. Variasi penggunaan anggota tubuh.
Dalam
Thfian Po Khan, seluruh anggota tubuh merupakan senjata. Kalau
didiperhatikan jurus yang menggunakan tangan, maka kita akan dapati
penggunaan jari tangan, cakar, kepal buku, genggaman, punggung tangan,
telapak tangan, sisi tangan, sikut, bahu dan seterusnya. Belum lagi
apabila kita membicarakan penggunaan kaki, variasi tendangan, dan lain
sebagainya. Sehingga dari masing-masing anggota tubuh akan melahirkan
banyak variasi jurus.
Kedua. Teknik.
Perbedaan
teknik penyerangan, pertahanan dan hindaran tentu saja akan semakin
memperkaya jurus. Jurus akan semakin variatif dan lengkap. Jurus akan
dapat mengantisipasi bentuk serangan dalam kondisi apapun, jarak dekat,
pendek maupun jauh, dapat menghindar dalam bentuk serangan sesulit
apapun dan seterusnya. Bahkan ketika salah satu anggota tubuh sakit
maka anggota tubuh yang lain tetap dapat dimanfaatkan untuk bertarung
dengan optimal.
Ketiga. Seni.
Jurus
selain merupakan teknik juga merupakan seni. Tentu saja yang dimaksud
adalah seni beladiri. Jurus akan terlihat lebih indah tetapi tetap
sarat dengan kandungan teknik. Misalnya saja ketika seseorang menyerang
luruh kedepan, maka dapat dengan mudah dilakukan tangkisan dan serangan
mematikan dengan gerak cepat ke arah yang mematikan. Tetapi ada kalanya
bahwa tidak semua musuh harus dilawan dengan cara mematikan. Cukuplah
musuh dikalahkan dengan dijatuhkan, dibuat kelelahan atau hanya sekedar
menjatuhkan senjata yang yang dipegang. Cara seperti ini sering
dilakukan oleh para pendekar Thifan Po Khan yang terdahulu ketika
menghadapi musuh, mereka sering hanya merampas senjata atau membuat
lawan kelelahan dan akhirnya menyerahkan diri. Teknik ini sangat
bermanfaat untuk mengembangkan dakwah Islam pada masa itu. Selain itu,
kehalusan jurus juga mencerminkan perilaku dari pemegang jurusnya,
semakin halus dan berseni jurus maka akan semakin halus jiwa dan
perilaku seseorang. Karena beladiri tidak menciptakan orang yang
bertabiat kasar dan keras, tetapi pendekar yang bermental ksatria,
andap ashor tidak adigang adigung adiguno (baik hati, tidak sombong dan
rendah diri) – (hb)
Visitors :33608 Org
Hits : 103209 hits
Month : 1683 Users