Tawe

Selasa, 9 Februari 2010 13:45:10 - oleh : redaksi


Tawe (jurus) merupakan istilah umum dalam beladiri. Arti bebas dari jurus adalah rangkaian gerak yang bermuatan teknik untuk beladiri ataupun pertarungan. Tiap beladiri hampir bisa dipastikan mempunyai jurus yang berbeda. Walaupun terkadang nama jurus sama, tetapi gerakannya bisa jauh berbeda. Misalnya jurus harimau dalam Thifan Po Khan, ternyata sangat beda dengan jurus harimau dalam beladiri lain.

Dari manakan jurus itu berasal ? Apakah jurus dibuat hanya berdasarkan bayangan akan gerakan tertentu, ataukan berdasarkan pengalaman lapangan ? Tiap beladiri mungkin akan memberikan jawaban yang berbeda. Dalam kitab Thifan Po Khan disebutkan, bahwa jurus berasal dari pengamatan akan gerak tertentu yang kemudian dikaji secara khusus. Hasil kajian kemudian diaplikasikan dalam pertarungan. Hasil dari pertarungan akan dievaluasi kembali serta disempurnakan sehingga menjadi jurus yang baku. Misalnya jurus Petik Anggrek di Pohon Tie, jurus ini merupakan pengamatan dari pendekar Namsuit ketika memperhatikan teknik memetik anggrek, gerak ini kemudian dikaji, dipraktekkan kemudian dijadikan jurus baku. Berdasar uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa jurus adalah rangkaian gerak yang sangat bermanfaat untuk pertarungan, baik sebagai teknik penyerangan, hindaran maupun pertahanan.


Jurus; banyak atau sedikit

Tiap beladiri memiliki jurus yang berbeda, baik jumlah maupun geraknya. Ada beladiri yang memiliki 7 jurus, 12 jurus, 40 jurus dan bahkan tidak sedikit yang memiki ratusan jurus. Mengapa jurus bisa sedikit atau banyak? Jawaban pertanyaan ini sangat relatif, karena tiap beladiri mempunyai alasan tersendiri. Tetapi penulis mempunyai pandangan yang berdasarkan pengamatan bahwa banyaknya jurus ditentukan oleh beberapa hal.

Pertama. Variasi penggunaan anggota tubuh.
Dalam Thfian Po Khan, seluruh anggota tubuh merupakan senjata. Kalau didiperhatikan jurus yang menggunakan tangan, maka kita akan dapati penggunaan jari tangan, cakar, kepal buku, genggaman, punggung tangan, telapak tangan, sisi tangan, sikut, bahu dan seterusnya. Belum lagi apabila kita membicarakan penggunaan kaki, variasi tendangan, dan lain sebagainya. Sehingga dari masing-masing anggota tubuh akan melahirkan banyak variasi jurus.

Kedua. Teknik.
Perbedaan teknik penyerangan, pertahanan dan hindaran tentu saja akan semakin memperkaya jurus. Jurus akan semakin variatif dan lengkap. Jurus akan dapat mengantisipasi bentuk serangan dalam kondisi apapun, jarak dekat, pendek maupun jauh, dapat menghindar dalam bentuk serangan sesulit apapun dan seterusnya. Bahkan ketika salah satu anggota tubuh sakit maka anggota tubuh yang lain tetap dapat dimanfaatkan untuk bertarung dengan optimal.

Ketiga. Seni.
Jurus selain merupakan teknik juga merupakan seni. Tentu saja yang dimaksud adalah seni beladiri. Jurus akan terlihat lebih indah tetapi tetap sarat dengan kandungan teknik. Misalnya saja ketika seseorang menyerang luruh kedepan, maka dapat dengan mudah dilakukan tangkisan dan serangan mematikan dengan gerak cepat ke arah yang mematikan. Tetapi ada kalanya bahwa tidak semua musuh harus dilawan dengan cara mematikan. Cukuplah musuh dikalahkan dengan dijatuhkan, dibuat kelelahan atau hanya sekedar menjatuhkan senjata yang yang dipegang. Cara seperti ini sering dilakukan oleh para pendekar Thifan Po Khan yang terdahulu ketika menghadapi musuh, mereka sering hanya merampas senjata atau membuat lawan kelelahan dan akhirnya menyerahkan diri. Teknik ini sangat bermanfaat untuk mengembangkan dakwah Islam pada masa itu. Selain itu, kehalusan jurus juga mencerminkan perilaku dari pemegang jurusnya, semakin halus dan berseni jurus maka akan semakin halus jiwa dan perilaku seseorang. Karena beladiri tidak menciptakan orang yang bertabiat kasar dan keras, tetapi pendekar yang bermental ksatria, andap ashor tidak adigang adigung adiguno (baik hati, tidak sombong dan rendah diri) – (hb)

kirim ke teman | versi cetak

Berita "Beladiri" Lainnya