Kopi Hitam Panas

Cerita ini sebenarnya kisah nyata yang ditulis ulang, semoga sedikit menghibur.
Waktu
baru menunjukan pukul 21.00 wib. Tetapi kondisi malam itu sangat gelap.
Mendung tebal menutupi bulan dan bintang yang seharusnya menerangi
malam. Bergegas saya mohon diri dari tuan rumah yang sudah mengadakan
acara tasyakuran. " Sorry nih beh, ane pamit dulu ya, ujan dah mau
tumpah nih, takut keujanan di jalan." pamit saya. " Yah dah sono,
ati-ati dan makasih ya dah mau dateng, salam buat babe loe." sahut Mang
Udin tuan rumah.
Baru sepuluh menit perjalan, hujanpun turun
dengan derasnya, padahal jarak ke rumah masih sangat jauh. Terpaksa
motor Yamaha Alfa saya belokan ke sebuah warung untuk neduh. Menyesal
tadi tidak membawa jas hutan.
Warung sepi, hanya ada mamang
pemilik warung dan anaknya yang masih kecil." Permisi mang, numpang
neduh ?" sapa saya. " Silakan nak, masuk aja tapi motornya dijaga ya,
maklum kampung sini kurang aman, banyak maling dan preman." jawabnya.
Deg, aduh mak. Mana motor masih baru banget lagi, batin saya.
Belum
habis rasa waswas , tiba-tiba masuklah sekitar tiga orang dengan
tampang seram ke warung kopi. Terlihat tato ada di lengan mereka.
Pandangan mereka sangat tidak bersahabat. Perasaan saya semakin ciut
saja, maklum saya termasuk bukan tipe pemberani alias boleh dibilang
sedikit penakut. Walau badan cukup bongsor, tetapi kemampuan beladiri
sangat minim.
Mata ketiga orang tadi terus mengawasi saya. Wah
bisa gawat nih, batin saya. Mesti ada akal bagaimana caranya membela
diri. Tiba-tiba terbersit ide agak nekad. " Mang bikinin kopi hitam
panas ya, gak usah pakai gula dan gak pakai sendok !" minta saya ke
penjaga warung." Gak pake sendok? tanya tukang warung keheranan. " Iya
sahut saya mantap." Ketiga orang yang dari mengamati saya pun terlihat
agak bingung." Nih nak kopinya," penjaga warung menyodorkan kopi.
Aroma
kopi panas membuat ide nekad saya semakin bulat. Dengan tampang yang
saya buat setenang mungkin, kaki diangkat satu di atas kursi seperti
layaknya jagoan kampung, Mulailah jari saya mengaduk kopi hitam yang
masih sangat panas tersebut. Rasa panas banget, ingin rasanya langsung
mencabut jari saya dari kopi panas itu. Kalau bukan karena takut motor
melayang di palak preman maka tentu sudah dari tadi teriak kesakitan.
Tabahkan hatimu nak, itu pesen dari dalam hati saya.
"Wah, hebat
nak, pernah berguru dimana?" ucap penjaga warung kagum." Ah biasa aja
mang, baru sebagian ilmu aja," sahut pura-pura tenang. Penjaga warung
menduka saya punya ilmu kebal atau ilmu tahan panas yang hebat. Padahal
sih tangan ancur banget hehe.
Sambil menahan sakit, tak lupa
saya lirik ketiga orang tadi, ternyata mereka saling berbisi. Untungnya
tak beberapa lama, ketiga orang preman tadipun keluar dari warung.
Alhamdulillah
aman. Aksi nekad saya tadi ternyata tidak terlalu sia-sia. Walau tangan
melepuh hebat, tetapi yang penting motor dan dompet aman. (cah)
Visitors :33604 Org
Hits : 103192 hits
Month : 1684 Users