Mengaji Bersama setelah Saling Pukul
Thifan Po Khan, Bela Diri Warisan Muslim Xinjiang di UI
Mengaji Bersama setelah Saling Pukul
http://www.jawapos.co.id/halaman/index.php?act=detail&nid=132855
Bela diri thifan po khan kini muncul lagi dan diajarkan secara terbuka untuk umum. Bela diri asal Turkistan Timur (sekarang Xinjiang, Tiongkok) itu kini semakin diminati.
RIDLWAN HABIB, Jakarta
---
"Assalamualaikum. Afwan (maaf, Red), Ustad. Ana (saya, Red) terlambat," ujar Irfan, salah seorang murid Persaudaraan Thifan Po Khan Indonesia, kepada sang pembimbing, Herman Budianto.
Yang disapa tersenyum, menjawab salam, berjabat tangan, lalu berangkulan, mirip dua orang yang lama tak bertemu. Tidak ada hukuman pushup atau lari untuk Irfan. Dia hanya disuruh segera berganti baju, lalu bergabung dengan tamid (murid) lain yang sudah hadir.
Minggu pagi, tepatnya 11 April lalu, adalah hari latihan rutin bagi siswa Persaudaraan Thifan Po Khan Indonesia lanah (cabang perguruan) Universitas Indonesia (UI). Mereka memilih lapangan rumput di tepi danau UI yang rindang dan sejuk. Tapi, pagi itu tak banyak yang datang, hanya ada 13 anggota.
"Thifan memang tak mengejar banyaknya murid atau anggota. Yang terpenting justru istiqamah (konsisten, Red) dalam latihan. Ada yang coba-coba ikut berlatih, tapi berhenti ketika merasa berat," ujar Herman kepada Jawa Pos.
Dulu, sebelum ilmu itu diajarkan untuk umum, pelatihan thifan terbatas di masjid-masjid dan berdasar kepercayaan penuh antara pembimbing dan murid. Seorang pelatih hanya punya dua atau tiga murid. "Tapi, sekarang sudah berkembang dan terbuka untuk umum," kata pria kelahiran 1973 itu.
Ciri khas bela diri thifan memang berdasar ajaran Islam. "Yang paling utama adalah memurnikan akidah dalam berlatih bela diri. Jadi, dalam thifan tidak ada penghormatan kepada bendera, pelatih, atau semacamnya. Kalau ketemu, ya salaman biasa, lalu latihan diawali dengan membaca bismillah," papar Herman.
Setelah berdoa, para anggota persaudaraan itu memulai gerakan pemanasan atau yang mereka sebut sentay. Mereka meregangkan otot sesama partner latihan. Ada beberapa gerakan sentay. Salah satunya adalah sit-up menggantung dengan kaki dipegangi teman sambil berdiri. Gerakan lain adalah memukul-mukul perut dengan telapak tangan sendiri dan pushup dengan kepala menempel pada tanah.
Menurut Herman, thifan adalah bela diri yang agresif. "Itu ilmu perang, memang perpaduan tangan dan kaki yang seimbang," ungkap dia.
Selain itu, mereka membiasakan diri dipukul atau terpukul tanpa pelindung. "Dalam aplikasi nyata saat berkelahi, tidak mungkin kita luput dari pukulan musuh. Kita juga tidak mungkin memasang pelindung badan dulu," terang dia.
Setelah pemanasan dan senam, anggota berlatih kenla atau kelincahan. Di antaranya, salto dan lompat harimau. "Awas, Akhi (Saudara, Red), jangan di rumput sebelah situ, ada tahi kucing. Najis," ujar Ilham, salah seorang murid, saat mengingatkan rekannya. Tiba-tiba Herman meminta tamid berkumpul. "Sekarang kita berlatih kekuatan. Coba Akhi Slamet, antum yang pertama," papar dia.
Slamet berdiri dengan dua kaki sejajar bahu. Kedua tangannya dibuka, lalu dikepalkan. Selanjutnya, dengan aba-aba Herman, tujuh rekan beramai-ramai memukul tubuh alumnus UI itu. Ada yang memukul perut, lengan, juga punggung. Betis Slamet ditendangi dengan kasar. Jawa Pos menyaksikan bahwa pukulan dan tendangan itu tidak main-main, bahkan sekuat tenaga. Wajah Slamet menahan pukulan sembari mempraktikkan olah napas thifan sehingga memerah. Itu berlangsung sekitar setengah menit.
Mereka lalu berlatih jurus atau tawe. Setiap level punya karakter jurus sendiri-sendiri. "Di thifan, ada tingkat pertama hingga dua belas. Satu tahap rata-rata dilalui dalam delapan bulan latihan. Tapi, itu kalau teratur," ucap dia.
Tahap terakhir dari latihan empat jam tersebut adalah turgul. Itu mirip kumite dalam karate atau sabung di pencak silat. Setiap tamid diadu untuk bertarung dengan jurus dan teknik yang sudah dipelajari. Yang agak beda, ada turgul jarak pendek dan jauh.
Sebelum latihan ditutup, mereka duduk melingkar. Lalu, Herman mempersilakan Slamet untuk memberi taushiyah (ceramah) singkat. "Yang memberikan taushiyah selalu bergantian per pekan, temanya bebas," tegas Herman. (*c11/ari)
Visitors :33559 Org
Hits : 102589 hits
Month : 1698 Users